Malang Raya
Gara-gara Ayah Sakit, Pria ini Tuduh Kakek 80 Tahun Tukang Santet dan Dihabisi
Pagi di Dusun Krajan Desa Pringgondani, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur terkoyak peristiwa berdarah, Sabtu (3/8/2016).
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Pagi di Dusun Krajan Desa Pringgondani, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur terkoyak peristiwa berdarah, Sabtu (3/8/2016).
Munarah (80) tewas di tangan tetangganya sendiri, Agus Siswantoro (32).
Munarah tewas akibat luka parah di leher belakang. Sedangkan Agus menyerahkan diri ke Polsek Bantur, dan kini ditahan di Polres Malang.
Berdasarkan pemeriksaan polisi, Agus menebas Munarah karena Munarah tidak serta merta memenuhi permintaan Agus. Agus meminta Munarah untuk menyembuhkan sakit yang diderita ayah Agus, Muksin (70). Agus meminta Munarah karena dia menuduh, Munarahlah penyebab sakit yang diderita Muksin.
Agus menemui Munarah, Sabtu (3/9/2016) pukul 08.30 Wib, ketika laki-laki renta itu baru pulang mencari rumput. Munarah hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumahnya, ketika Agus mencegatnya.
Munarah menggendong ikatan rumput untuk kambingnya. Terjadi percakapan singkat antara keduanya. Agus menuduh Munarah sebagai dukun santet yang telah menyantet Muksin hingga sakit stroke selama lima tahun terakhir.
Awalnya Munarah mengelak tuduhan itu. Agus marah. Laki-laki itu kemudian mengacungkan parang dan mengancam Munarah. Di bawah ancaman, Munarah mengaku sebagai dukun santet. Agus pun meminta Munarah menyembuhkan penyakit sang ayah. Munarah tidak langsung menyanggupinya dan meminta waktu.
"Tetapi kemudian dibacok dari belakang. Awalnya mengenai telinga kiri. Sabetan kedua mengenai leher belakang," ujar Kanit Binmas Polsek Bantur Aiptu Dwi Bambang yang mengantarkan jenazah Munarah ke Kamar Mayat Rumah Sakit Saiful Anwar.
Sabetan kedua membuat kakek renta itu tewas sambil bersimbah darah. Bukannya menolong, Agus meninggalkan tubuh Munarah dan menuju Polsek Bantur. Dia menyerahkan diri.
Warga sekitar kaget melihat peristiwa itu. Jenazah Munarah dibawa ke Kamar Mayat, setelah proses identifikasi dan olah tempat kejadian perkara selesai.
Kerabat Munarah yang ikut mengantarnya ke Kamar Mayat, enggan memberikan keterangan kepada wartawan. Seorang warga yang ikut dalam rombongan pengantar, namun enggan menyebut namanya, menuturkan jika Munarah dikenal sebagai laki-laki pendiam.
"Kerjanya ya ngarit itu, setiap hari ngarit karena kambingnya banyak. Dia dikenal sebagai laki-laki pendiam. Kalau disebut dukun santet, gimana membuktikannya," ujar laki-laki tersebut.
Ia menambahkan, ayah Agus, Muksin, sudah sakit sejak beberapa tahun lalu. Muksin tidak bisa beraktivitas karena terkena stroke.
"Nggak tahu kok disebut kena santet, padahal sudah sakit lama," gerutunya lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/jenazah_20160903_184047.jpg)