Malang Raya
Akhirnya, Petani Kopi Dampit Sridonoretno Mulai Sadar Soal Petik Merah
“Kamipun mengakui salah. Bahwa kami menganggap biji kopi ini sesuatu yang tidak berharga. Menjemur dengan cara yang tidak benar, di injak-injak,"
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, DAMPIT - Kamis (15/9/2016) wartawan SURYAMALANG.COM mencoba mendatangi satu dari produksi biji kopi di Kabupaten Malang, yakni Dampit. Banyak juga masyarakat yang tidak detail menyebutkan Kopi Dampit.
Padahal, Kopi Dampit itu ada banyak, Ada Kopi Amstirdam, Kopi Sridonoretno, dan lainnya. Tetapi, kali ini Surya mendatangi petani Kopi di tiga desa, Desa Sri Mulyo, Desa Sukodono, dan Desa Batu Retno, di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.
Memang hampir semua orang di Indonesia, menyukai bahkan ada yang mengaku sebagai pecinta kopi sejati. Bagi penikmat dan pecinta kopi, kebanyakan mereka hanya sekedar meminum dan sedikit yang ingin mengetahui asal usul biji kopi yang diminum.
Perjalanan menuju ke sana cukup memakan waktu yang lama, sekitar 2 setengah jam. Ketika sudah memasuki pedesaan, sepanjang perjalanan terlihat hampir semua rumah penduduk menjemur biji kopi di halaman depan rumah.
Tak lama kemudian tibalah di salah satu rumah penduduk, yang juga merupakan Ketua Asosiasi Sridonoretno, Eka Yudi Sukrianto. Berbeda dari rumah penduduk desa yang lainnya, di halaman rumahnya tidak ada kopi yang ia jemur. Yang ada buah cherry merah diletakkan di samping rumahnya masih dalam keadaan segar habis dipetik dari kebun kopi.
Begitu sampai, langsung disuguhkanlah kopi seduh siap minum. Tanpa berpikir panjang, kopi itu langsung dituangkan ke gelas dari ceret kaca, aroma wangi kopi seduh tercium.
Kopi yang disuguhkan, ialah kopi jenis exelsa. Begitu dicoba, rasanya manis meskipun diminum tanpa menggunakan gula. Kopi itu terlihat tidak ada ampas, sehingga langsung bisa dinikmati.
“Ayo dicoba dulu kopinya,” tutur Sukri membuka pembicaraan.
Sukri menceritakan, sejauh ini, selama zaman penjajahan Belanda, para petani sama sekali tidak mengetahui cara memetik buah kopi yang benar. Selama ini, mereka hanya asal-asalan memetik buah kopi.
Padahal, seharusnya buah kopi itu bukan diambil satu brendel, tetapi dipetik dan dipilih buah kopi yang bewarna merah tua. Ia yang juga seorang petani kopi dan memiliki kebun kopi jenis batang basah BP 308 ini mengatakan, kebanyakan petani memang asal-asalan saat panen kopi. Semua buah kopi warna merah, orange, bahkan yang masih hijau ikut diambil.
“Berawalnya itu kami menyadari penjualan kopi ini lama-lama menurun harganya. Akhirnya tahun 2015 kami mendatangi PTPN 12 untuk bernegosiasi dan mencari mitra. Dari mereka menentukan buah kopi merah itu 95 persen. Tetapi kopi merah kami, hanya mencapai 87 persen saja dari ketentuan mereka. Meskipun begitu, kopi merah kami hanya diterima sekali saja. Saat itu hanya 4 ton 4 kuintal,” ujar dia mengawali cerita.
Sebelumnya diberitakan, bahwa beberapa pemilik kedai se Malang Raya, memberikan pembinaan untuk para petani kopi Sridonoretno agar menghasilkan biji kopi yang sempurna.
Sejak dari situlah, para petani yang mengenal salah satu pemilik kedai akhirnya mendapatkan bantuan untuk memperbaiki pemetikan merah buah kopi. Berbekal ilmu dari PTPN 12, petani di tiga desa ini akhirnya mampu menilai hasil buah kopi yang mereka petik, dan hasilnya hanya 90 persen, dirasanya cukup untuk dilanjutkan ke pemrosesan biji kopi.
“Kamipun mengakui salah. Bahwa kami menganggap biji kopi ini sesuatu yang tidak berharga. Menjemur dengan cara yang tidak benar, di injak-injak. Belum lagi ketika dijemur, dibuat alas tidur oleh kucing, atau bahkan dilewati anjing dan terkontaminasi oleh kotoran anjing. Kami sadarnya, beberapa waktu silam, di sini kedatangan tamu dari Jepang yang melihat langsung proses biji kopi. Melihat cara yang kami lakukan, dia mengelus dada. Kami mengartikannya, tamu itu sangat prihatin dengan cara kami memperlakukan biji kopi. Beberapa dari kami petani kopi mulai menyadari bagi penikmat kopi cita rasa yang dihasilkan kopi itu sangatlah penting. Sejak saat itu, kami mulai mendapat pengarahan dari mereka pecinta dan penikmat kopi,” ungkapnya.
Dari tiga desa, ada 18 kelompok tani masing-masing kelompok ada 20 petani. Setelah diberi pengarahan dan sosialisasi, dari 18 kelompok tani itu, hanya ada 8 kelompok tani, yakni sekitar 100 petani saja yang mau merubah cara pemetikan buah kopi menggunakan petik merah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/kopi-dampit_20160921_214517.jpg)