Malang Raya
Mahasiswa Universitas Brawijaya Prihatin Lahan Pertanian di Malang Terus Susut
"Kota Malang makin padat. Masyarakat pemilik lahan tentunya tergiur melakukan konversi,"
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Makin menyusutnya lahan pertanian di Malang Raya membuat prihatin Aliansi Mahasiswa Pertanian. Karena itu mereka menggelar aksi di sekitar Universitas Brawijaya (UB) Malang.
Selanjutnya mereka bergeser ke gedung DPRD, Senin (26/9/2016) refleksi memperingati Hari Tani ke 56. Aliansi ini gabungan dari BEM Fakultas Pertanian Unisma, Universitas Widyagama, UMM dan UB.
Meski aksi mereka dilakukan tengah hujan rintik-rintik, namun tak menyusutkan semangat. Selain mengenakan jas almamater, mereka yang menutup kepalanya dengan caping khas petani.
"Kami keliling sekitar UB juga untuk mengenalkan Hari Tani ke mahasiswa," jelas Ahmad Khoiruddin, Presiden BEM Fakultas Pertanian UB kepada SURYAMALANG.COM.
Poin penting yang mereka suaranya adalah banyaknya konversi lahan pertanian. Khusus di Kota Malang menurut data yang dikutip mahasiswa semester 7 ini dari Kadis Pertanian Kota Malang, Ir Hadi Santoso, sisa lahannya hanya 846 hektare.
Bahkan, lanjutnya, pada 2025 sebagaimana disampaikan Sony, panggilan akrab kadis itu diprediksikan akan habis karena alih fungsi lahan.
"Kota Malang makin padat. Masyarakat pemilik lahan tentunya tergiur melakukan konversi," kata dia.
Ia berharap ada solusi atas fenomena itu.
"Kami mengharapkan ada solusi-solusi agar mereka bisa mempertahankan sawahnya dan hasil pasca panen," kata dia.
Apalagi harga jual gabah yang dibeli Bulog juga lebih rendah karena dasarnya inpres. Namun inpresnya sudah lama, zaman Presiden SBY. Padahal sekarang sudah 2016.
Ia berharap, Bulog kembali berperan sebagai bagian dari pemerintah sehingga membantu petani. Bukan sebagai perusahaan komersil. Karena akhirnya petani menjual hasilnya ke tengkulak.
Khorudin juga menyoroti dampak pembangunan jalan tol Pandaan-Malang akan mengurangi lagi lahan pertanian untuk akses jalan. Namun memang dilemanya rata-rata lahan pertanian merupakan kepemilikan pribadi.
"Ini tantangannya. Mungkin ada peraturan agar sawah bisa dipertahankan dengan memberi sesuatu. Misalkan bibit. Ini kan bentuk keberpihakan pada petani," kata dia.
Ia berharap, minimal lahan pertanian di Kota Malang bertahan di angka 846 hektare. Menurut pandangannya, jumlah mahasiswa yang makin banyak berkuliah di Kota Malang juga menjadi potensi peralihan lahan.
"Maba UB saja sudah 13.000 orang. Belum dari perguruan tinggi lagi," kata mahasiswa Budidaya Pertanian ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/demo-ub_20160926_193947.jpg)