Pendaki Tewas di Gunung Arjuno

Korban Tersambar Petir di Gunung Arjuno Sempat Senyum Usai Diberi Nafas Buatan

Saat mata Bintara menutup, Ali memberi nafas buatan lagi. Namun, nafas buatan kedua ini tidak berfungsi. Bintara tidak membuka matanya lagi.

Penulis: Galih Lintartika | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Galih Lintartika
Jayadi (kanan), bapak kandung Bintara Fredyansah. 

SURYAMALANG.COM, PASURUAN - Bintara Frediansyah (21) sempat mendapat pertolongan pasca disambar petir di Gunung Arjuno, Selasa (13/12/2016) siang.

Seorang teman korban, Muhammad Ali Ridho mengaku memberi nafas buatan ke Bintara sebanyak dua kali. Saat nafas bantuan pertama diberikan, Bintara sempat membuka matanya.

“Dia seperti tersenyum sedikit. Tetapi tidak lama kemudian dia pingsan,” katanya, Rabu (14/12/2016).

Saat mata Bintara menutup, Ali memberi nafas buatan lagi. Namun, nafas buatan kedua ini tidak berfungsi. Bintara tidak membuka matanya lagi.

“Saya langsung panik. Saya bingung apa yang saya harus saya lakukan. Kami sudah memberikan berbagai macam pertolongan pertama, tapi tidak berhasil,” paparnya.

Setelah itu tubuh Bintara kaku. Dia yang semakin khawatir memutuskan turun ke pos izin pendakian dan melapor kejadian itu agar mendapat bantuan.

“Saya suruh teman saya jaga Bintara. Saya turun ke bawah cari bantuan bersama Nikko,” tandasnya.

Pendaki lain, Totok Budi Santoso mengaku bertahan selama 12 jam lebih di puncak gunung.

“Saya tidak bisa meninggalkan teman-teman sendirian di atas. Kami saudara. Makanya saya dan teman saya menjaga dia,” katanya.

Bertahan di puncak dengan perbekalan minim terasa sangat berat. Apalagi dia dan temannya tidak memiliki jas hujan atau sejenisnya sebagai pelindung dari hujan.

“Saya pakai baju basah. Saya dan teman saya di atas bertahan melawan dingin, lapar, dan kegelisahan. Allhamdulillah, ada tim SAR datang mengirimkan logistik pada pukul 04.00 WIB,” paparnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved