Rabu, 22 April 2026

Kediri

Himasal Sampaikan Rekomendasi Kepada KH Said Aqil Siroj

Ada 6 poin rekomendasi yang dibacakan Gus Atok dihadapan santri dan alumni Ponpes Lirboyo. KH Said Agil merupakan alumni Ponpes Lirboyo.

Penulis: Didik Mashudi | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Didik Mashudi
Ketua Umum PBNU, KH Said Agil Siradj usai mengisi pengajian di Ponpes Lirboyo, Kamis (26/1/2017). 

SURYAMALANG.COM, KEDIRI - Himpunan Alumni Santri Ponpes Lirboyo (Himasal) menyampaikan sejumlah rekomendasi yang disampaikan kepada Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Kamis (26/1/2017).

Ada 6 poin rekomendasi yang dibacakan Gus Atok dihadapan santri dan alumni Ponpes Lirboyo. KH Said Aqil Siroj merupakan alumni Ponpes Lirboyo.

Rekomendasi Himasal itu diantaranya terus menjaga kemurnian aswaja dari liberalisme dan radikalisme di dalam struktur PBNU.

Kemudian tetap fokus bekerja dalam rangka berhikmah terhadap ulama, umat, agama dan bangsa. 
Tetap konsisten menjalankan khitoh NU 1984 dan konsisten mengawal politik kebangsaan. NU harus tetap menjaga jarak dengan parpol dan politik praktis.

Selain itu, terus mengupayakan rekonsialisi kader dan aktifis organisasi yang berseberangan akibat ekses perbedaan politik dan kepentingan.

Kemudian menggalakkan kaderisasi yang militan, berwawasan keaswajaan, keorganisasian NU dan kebangsaan yang kokoh.

Memperhatikan dan melakukan sosialisasi media resmi NU agar masyarakat dapat memperoleh informasi yang valid informasi yang berkaitan dengan NU.

“Banyak kalangan nahdliyin yang belum tahu mengakses berita yang benar di NU melalui media mana ? Ini perlu ada sosialisasi dan penjelasan resmi dari NU,” ungkapnya.

Sementara itu, KH Said Aqil mengatakan media informasi dan media sosial (medsos) telah berkembang. Bahkan kalangan wahabi, syiah, dan ahmadiyah sudah mengelola media sosial  hingga memiliki TV sendiri.

“Siaran TV wahabi dan syiah sudah bahaya. Malahan wahabi sudah darurat dan emergency karena telah menyebar sampai ke kampung,” jelasnya.

Menurutnya, medsos dan siaran TV itu berlangsung karena ada pihak yang memberi dana. Pemberi dana  dari sejumlah negara itu masuk ke sejumlah yayasan yang mengoperasikan medsos.

Sedangkan NU sudah memiliki TV 9, namun masih belum banyak siaran berita. Kondisi itu berbeda dengan TV lainnya yang telah mampu siaran 24 jam.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved