Malang Raya
Padakanusa, Komunitas Dalang Senior Kota Malang, Tularkan Ilmu kepada Anak-Anak
Mereka dipandu dalang legendaris asal Kota Malang, Dennys Suwarno, atau yang lebih dikenal Mbah Warno.
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Aktivitas bocah berusia antara 5 tahun sampai 8 tahun terlihat seru ketika belajar menjadi dalang, di Gedung Dewan Kesenian Malang (DKM), Klojen, Kota Malang, Jumat (3/2/2017) malam. Mereka dipandu dalang legendaris asal Kota Malang, Dennys Suwarno, atau yang lebih dikenal Mbah Warno.
Setidaknya ada sekitar 10 anak yang asik belajar wayang untuk menjadi dalang. Masing-masing anak memegang wayang dengan tokoh yang berbeda. Menariknya, mereka bukan hanya perkumpulan siswa yang sedang belajar dalang saja, ternyata di gedung DKM itu merupakan wadah bagi Paguyuban Dalang dan Karawitan Nunggal Rasa (Padakanusa).
Padakanusa merupakan perkumpulan yang kemudian menjadi komunitas tersendiri bagi dalang, pengrawit, dan pesinden. Di dalam gedung itu, ada berbagai perlengkapan dalang dan karawitan. Seperti gamelan, kendang, wayang, dan masih banyak lagi. SURYAMALANG.COM pun beruntung saat mendatangi DKM sedang ada latihan mendalang dan sinden. Nanang Pramudya, pendiri Padakanusa, mengatakan kelompok ini sudah ada sejak 2003.
Awalnya hanya sekelompok kecil karawitan yang mayoritas anggotanya sudah tua dan sudah lama terjun di pedalangan. Seperti Ki Suryo, Ki Peni Siparto, Ki Ardi Purbo, dan masih banyak lagi. Mereka berfikiran, sudah saatnya menggebrak generasi selanjutnya untuk menggantikan posisi mereka.
Nanang menjelaskan, makna dari nama Padakanusa. Yakni Padaka yang memiliki arti Intan. Nusa adalah Nusantara. Apabila digabung memiliki makna Intannya Nusantara adalah Gamelan dan Wayang, yang keduanya perlu dilestarikan.
“Anggotanya sudah tua-tua. Rata-rata mereka itu dalang dan pengrawit yang sudah lama di dunia karawitan. Mereka berfikiran, kalau dibiarkan tidak ada generasi yang meneruskan akan punah dan hilang. Kami bertahannya ya hanya dengan kegiatan Rebo Wekasan sejak 2013. Pertunjukan karawitan dan wayang kulit untuk masyarakat. Kalau hanya sekedar pertunjukan, tidak ada upaya untuk mencari generasi akan sayang,” kata dia.
Akhirnya, lanjut dia, sekelompok kecil itu memberi nama Padakanusa pada tahun 2003. Untuk menyelamatkan generasi, maka dari itu, mereka mencari bakat-bakat anak muda yang memang perlu dikembangkan dari dunia kesenian dan budaya.
Mulailah muncul sedikit-sedikit dalang cilik, dalang muda, sinden cilik, hingga pengrawit cilik. Setidaknya, hingga saat ini, ada 20 orang yang menjadi karawitan muda, sedangkan sinden muda dan cilik ada delapan orang.
“Dalang cilik sama dalang muda ada 15 orang,” imbuh Nanang yang juga seorang dalang.
Nanang mengatakan, satu ruangan itu dipakai oleh muda mudi yang mau belajar tentang seni dan budaya. Ada jadwal-jadwal tertentu, seperti hari Jumat latihan dalang dan latihan karawitan, lalu Selasa latihan untuk pedalang yang sudah pengalaman.
Sedangkan selasa untuk latihan sinden. Padakanusa bisa dikatakan merupakan satu-satunya kelompok yang bisa menyatukan tiga profesi, yakni dalang, karawitan, dan sinden.
“Di Kota Malang kalau grup atau komunitas dalang, banyak. Tapi yang jadi satu hanya Padakanusa. Karena ketiga hal itu, seperti dalang, karawitan, dan sinden, merupakan hal yang saling berkaitan. Anak-anak muda bisa belajar sekaligus. Dan hal ini perlu ditekankan pada anak-anak, secara pendidikan akan membentuk karakter dan jiwa yang santun,” imbuh pria kelahiran 14 Desember 1970 ini.
Ia bersama anggota sepuh lainnya tetap berupaya agar pelestarian wayang tidak punah. Seperti mengajak dan mendatangi instansi pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, pengusaha, sanggar, dan budayawan untuk memperluas jaringan. Jaringan ini gunanya untuk memperkenalkan budaya wayangan kepada masyarakat.
Tahun 2006, Padakanusa menjadi satu di antara 10 sanggar di Indonesia yang terpilih dan bekerja sama dengan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi), Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi), dan Unesco.
Terpilihnya Padakanusa ini karena merupakan sanggar yang berhasil merevitalisasi dan membenahi pendidikan budaya dalang dan wayang. Selama kerjasama itu Padakanusa mendapatkan dana untuk mengembangkan pendidikan dalang.