Senin, 20 April 2026

Nasional

Dapat Beking Petugas, Bisnis Prostitusi Berjalan Lancar, Tarif Sekali Bercinta Murah Banget

"Iya kontraknya memang murah di sini. Cuma Rp 3,5 juta selama setahun. Saya yang paling pertama buka di sini. Sejak 1997 saya di sini,"

Editor: eko darmoko
edennewspaper.net
Ilustrasi 

SURYAMALANG.COM - Salah-satu pemilik bisnis prostitusi di lokalisasi Padang Galak Denpasar, Bali, berinisial Mik, menuturkan bahwa selama membuka bisnis mesum sejak tahun 1997 dia mengaku mendapat duit per hari rata-rata Rp 2,5 hingga Rp 3 juta.

Sebelum digusur beberapa hari lalu, Mik memiliki bangunan yang disewakan untuk ajang prostitusi di area lokalisasi di Padang Galak yang disebut Kompleks Jagung Satu.

Nama Kompleks Jagung Satu itu pemberian para penghuni setempat untuk membedakan antara satu blok bangunan prostitusi dengan blok lainnya. 

Bisnis ini dirasakan Mik sangat menguntungkannya.

Apalagi, kata perempuan 45 tahun asal Bondowoso Jawa Timur ini, per tahun dia cukup membayar kontrak lahan di lokalisasi itu hanya Rp 3 juta hingga Rp 3,5 juta. 

"Iya kontraknya memang murah di sini. Cuma Rp 3,5 juta selama setahun. Saya yang paling pertama buka di sini. Sejak 1997 saya di sini," kata Mik. 

Pada umumnya para PSK di Kompleks Jagung Satu, kata dia, memasang tarif Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu untuk sekali 'masuk kamar', istilah di kalangan PSK untuk layanan bercinta berbayar.

Mik dan para pemilik kamar sewaan lainnya hanya meminta Rp 25 ribu kepada PSK dalam sekali transaksi.

Ditanya mengapa bisnis esek-esek yang ia geluti di Padang Galak aman dari penertiban petugas yang berwenang Mik menyebut bahwa ia memberi 'uang pelicin' kepada petugas setiap bulan.

Setiap bulan, menurut Mik, ada oknum petugas yang datang untuk memungut setoran.

Di areal Kompleks Jagung, kata Mik, ada 24 rumah yang menyewakan kamar-kamar untuk digunakan sebagai tempat PSK melayani pelanggannya.

Setiap rumah, sebut Mik, membayar setoran ke petugas sebesar Rp 600 ribu per bulan.

Dengan demikian, total duit yang mengalir dari para pemilik rumah prostitusi ke oknum petugas sekitar Rp 14 juta per bulan. 

"Ada setoran. Biasanya ada petugas yang datang ke sini untuk minta setoran. Per rumah setor Rp 600 ribu. Di sini ada 24 rumah, tinggal kalikan saja berapa totalnya," ungkap Mik.

Namun Mik enggan menyebut petugas dari instansi mana yang ia maksud tersebut.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved