Sabtu, 11 April 2026

Waspada 'Spring Predictability Barrier', BMKG Imbau Masyarakat Antisipasi Kemarau yang Lebih Ekstrem

BMKG bmerilis peringatan penting! Musim kemarau tahun ini tidak cuma datang lebih awal di beberapa wilayah, tapi juga diprediksi bakal lebih ekstrem.

|
Tribun Jateng/Hermawan Handaka
ANCAMAN KEKERINGAN 2026 - Akibat kemarau sejumlah sungai di Kota Semarang mengalami pendangkalan salah satunya di Sungai banjir Kanal Barat, Jumat (25/9/20). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait kondisi iklim Indonesia tahun 2026 memasuki musim kemarau, yang diprediksi akan meluas secara signifikan pada periode April hingga Juni mendatang. 

Ringkasan Berita:
  • BMKG melaporkan 7 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki kemarau hingga akhir Maret 2026, dengan puncak perpindahan musim diprediksi terjadi pada April hingga Juni. 
  • Musim kemarau tahun ini diprakirakan akan lebih kering dan berlangsung lebih lama dari biasanya. 
  • Selain itu, terdapat peluang sebesar 50-80 persen munculnya fenomena El Nino.
  • Meskipun akurasi prediksi saat ini masih terpengaruh fenomena spring predictability barrier, BMKG menekankan pentingnya kewaspadaan dini.

SURYAMALANG.COM, - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait kondisi iklim Indonesia tahun 2026.

Hingga akhir Maret, sejumlah wilayah di Sumatera, Sulawesi, hingga Papua dilaporkan telah memasuki musim kemarau, yang diprediksi akan meluas secara signifikan pada periode April hingga Juni mendatang.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan berdurasi lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya.

Hal ini diperkuat dengan adanya indikasi kuat berkembangnya fenomena El Nino pada semester kedua tahun 2026 dengan peluang mencapai 80 persen.

Awal Musim Kemarau 2026 di Indonesia

BMKG mencatat hingga akhir Maret 2026, sebanyak 7 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Jumlah ini diprediksi akan terus bertambah secara signifikan, dengan sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, beberapa wilayah yang telah memasuki musim kemarau meliputi sebagian kecil wilayah Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, NTB, NTT dan Maluku, serta sebagian kecil Papua Barat.

Baca juga: Waspada Potensi Gempa Susulan Sulut: BMKG Ingatkan Sejarah Palu, Minta Warga Siaga 2 Hari ke Depan

"BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global dan regional serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala" kata Faisal, dikutip dari laman resmi bmkg.go.id, Minggu (5/4/2026).

"Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG melalui berbagai kanal komunikasi yang tersedia," imbuhnya. 

Peluang Berkembangnya Fenomena El Nino

Di sisi lain, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan BMKG memprediksi adanya peluang berkembangnya fenomena El Nino pada semester kedua tahun ini.

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut (SPL) di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang melebihi suhu normal, sehingga menyebabkan perubahan pola angin dan curah hujan global.

Baca juga: Cuaca Malang-Kota Batu Hari Ini Senin 6 April 2026: Hujan Ringan Merata, Sedikit Berawan

Hingga akhir Maret 2026, kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih berada pada fase Netral.

Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO dapat berkembang menjadi fase El Nino pada semester kedua tahun 2026.

"Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Nino berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80 persen, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20 persen) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat," ujarnya.

Tantangan Prediksi 'Spring Predictability Barrier'

BMKG mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menginterpretasikan data prediksi saat ini karena adanya fenomena spring predictability barrier (hambatan prediktabilitas musim semi).

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved