Lamongan
Warga 'Desa Pancasila' di Lamongan Hidup Rukun dan Damai Meski Memeluk Agama yang Berbeda
Nuansa kebersamaan dan toleransi para warga desa sudah ada jauh sebelum saya menjabat sebagai kepala desa.
SURYAMALANG.COM, LAMONGAN - Di tengah melunturnya toleransi beragama, masih ada sebuah perkampungan yang warganya tetap rukun kendati mereka memeluk agama berbeda.
Perkampungan itu lantas dinamakan "Desa Pancasila", yang terletak di Desa Balun, Kecamatan Turi, Lamongan, Jawa Timur. Atau tepatnya berada sekitar 1 kilometer dari Jalan Raya Surabaya-Tuban.
“Nuansa kebersamaan dan toleransi para warga desa sudah ada jauh sebelum saya menjabat sebagai kepala desa. Karena sama dengan di daerah lain, agama di sini juga berkembang turun-temurun. Ada yang memeluk Islam, Kristen dan juga Hindu,” jelas Kepala Desa Balun, Khusyairi, Kamis (1/6/2017).
Dalam perkembangan, Islam memang menjadi mayoritas agama di Desa Balun yang terdiri dari 10 rukun tetangga (RT). Meski demikian, antara pemeluk agama mayoritas dengan minoritas sampai saat ini belum terdengar adanya konflik karena sentimen agama.
“Sudah biasa kami hidup berdampingan satu sama lain. Seperti ini, yang membantu saya memanen ikan di tambak ini juga ada yang beragama Islam, ada juga yang Kristen. Mereka pun sudah terbiasa membaur,” ucap dia.
“Dan karena saat ini bulan Puasa, maka yang beragama Kristen juga menjaga perasaan yang muslim dengan tidak makan dan merokok. Meski kalau tidak bulan puasa, sebelum dan saat memanen ikan, biasanya mereka makan dan merokok,” terang Khusyairi yang ditemui saat sedang memanen ikan di tambak miliknya.
Hal yang sama juga dikatakan Khusyairi saat momen ibadah agama Hindu maupun Kristen. Seperti saat Natal maupun Nyepi, giliran umat Islam turut menjaga keamanan dan memberikan ucapan selamat.
“Dan, kalau Hari Raya Idul Fitri, warga muslim di sini juga sudah biasa bertandang ke rumah-rumah tetangga maupun sanak familinya untuk bersilaturahmi. Meskipun tetangga atau sanak familinya itu beragama Hindu maupun Kristen,” beber Khusyairi.
Tak ada perselisihan karena agama
Ucapan Khusyairi juga dibenarkan oleh Karbin (42), warga RT 8/RW3, Desa Balun, Kecamatan Turi, Lamongan. Meski dirinya satu keluarga memeluk agama Hindu, namun selama ini ia beserta keluarga tidak pernah terlibat perselisihan dengan tetangganya yang nota bene beragama lain.
“Sebelah kiri rumah saya ini kakak ipar, namanya Rohmana. Dia memeluk agama Kristen, tapi dua anaknya memeluk agama Islam. Bagi kami, itu hal biasa, karena agama itu urusan pribadi masing-masing orang dan tidak bisa dipaksa-paksa,” ujar Karbin.
Karbin sendiri menikah dengan Sriwati (40), dengan dikaruniai seorang putri bernama Venda (15) dan semuanya memeluk agama Hindu. Sementara tetangga sebelah kanan rumah Karbin, merupakan keluarga pemeluk agama Islam.
“Ini saya merokok pada saat Ramadan seperti ini juga hanya di rumah saja, karena di luar rumah kami biasanya menghormati yang sedang menjalankan puasa. Itu sudah biasa, dan telah berlangsung sejak beberapa tahun silam. Karena penghormatan dan toleransi seperti ini, juga kami dapatkan dari pemeluk agama Islam maupun Kristen di sini,” jelasnya.
Dikatakan Karbin, pada saat perayaan Nyepi, selain menghormati yang menjalankan, para warga Desa Balun pemeluk agama Islam maupun Kristen juga membantu membuat ogoh-ogoh, hingga turut serta mengaraknya keliling kampung.
“Karena kami percaya, tidak ada agama yang mengajarkan kejelekan. Semua pasti mengajarkan kebaikan. Nah, tinggal kita saja yang menjalankannya seperti apa. Karena siapa sih yang rela agamanya dihujat? Kalau itu dikembalikan kepada diri masing-masing pasti tidak ada yang rela, makanya jangan kita sampai menyakiti orang lain jika tidak ingin disakiti,” tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/gapura-sebelum-masuk-desa-pancasila-yang-ada-di-desa-balun-kecamatan-turi-lamongan_20170601_144913.jpg)