Breaking News:

Malang Raya

Di Kota Batu Ada Cabai Warna-Warni, Meskipun Tampilannya Imut Tapi Rasanya Tetap Pedas

Muawanah (42) petani Sidomulyo Kota Batu, tampak sibuk menata polibag yang ada di lahan miliknya, Senin (21/8/2017).

SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Muawanah memperlihatkan cabai warna warni miliknya di Kota Batu, Senin (21/8/2017). 

SURYAMALANG.COM, BATU - Muawanah (42) petani Sidomulyo Kota Batu, tampak sibuk menata polibag yang ada di lahan miliknya, Senin (21/8/2017).

Lahan miliknya ada yang tanpa penutup atap, ada juga yang seperti green house. Di lahannya yang tertutup, ada tanaman cabai warna warni. Ada warna ungu, biru, putih, hijau, orange, dan merah.

Ada sekitar belasan polibag tanaman cabai warna warni tertata rapi. Tapi sayangnya, beberapa lainnya sudah disemai oleh dia. Jika dilihat, memang lucu dan menggemaskan.

Tetapi siapa sangka, di balik keindahan warna-warni itu, toh cabai tetaplah pedas. Bahkan melebihi cabai rawit pedasnya. Muawanah memulai menanam cabai ini sejak 2012. Awalnya ia hanya membeli benih ini di toko dan menanamnya.

"Gak tau kok tiba-tiba warna-warni. Kehendak yang kuasa," kata Muawanah sembari tertawa kecil.

Ia mengakui tidak ada trik khusus untuk membuat cabai ini menjadi warna warni. Ia hanya memberikan pestisida dan obat-obat saja. Waktu mulai dari masa tanam hingga panen sekitar 2 bulan saja. Sekali panen bisa sekitar 5-6 polibag.

"Pas panen gitu banyak yang beli. Sekarang kan sudah banyak juga yang saya semai. Jadi bijinya ini saya tanam lagi," imbuh dia.

Yang beli, bahkan ada yang sampai Bali, Jawa Tengah. Kebanyakan, yang pesan cabai ini dibuat hiasan saja. Harganya sekitar Rp 7000 saja. Kesulitannya hanya ketika hujan. Karena, dikatakannya, menanam cabai tidak bisa terkena matahari secara langsung. Juga tidak terlalu di tempat yang lembab.

Karena, kalau terlalu kena panas, daunnya akan cepat layu. Begitu juga kalau pas hujan, akan mempengaruhi bunga yang sulit berbuah. Oleh karena itu, ia tak bisa lepas dari pestisida dan obat-obatan.

Ia menjelaskan urutan perkembangan dari cabai ini. Mulai dari warna hijau tua, lalu berubah warna menjadi biru tua dan ungu tua. Lalu setelah itu warna putih yang kemudian berubah warna orange. Baru warna merah bisa di panen atau dipetik. Dan bisa dimakan.

"Bisa kok di makan. Bahkan pedasnya hampir sama seperti cabai rawit," kata dia.

Ia mengelola cabai rawit ini bersama suaminya Abdul Rohman. Dikatannya, ia menanam cabai ini tanpa bantuan dari Pemkot Batu. Abdul mengatakan, cabai ini sebagian dari usaha tanaman yang ia kelola sejak 20 tahun lalu.

"Ingin saja ada variasi tanaman yang lain. Biar berwarna," imbuh Abdul.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved