Persib Bandung
PSSI Beri Penjelasan Soal Sanksi Koreografi untuk Persib Bandung, Ini Dasar Hukumnya
PSSI memberi penjelasan soal sanksi koreografi ketika Persib Bandung menjamu Semen Padang dalam laga Liga 1 di Stadion Si Jalak Harupat.
SURYAMALANG.COM - JAKARTA – Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi untuk Persib Bandung terkait koreografi bertajuk ‘Save Rohingya’ ketika Maung Bandung menjamu Semen Padang dalam laga Liga 1 di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Sabtu (9/9/2017).
Persib dianggap melanggar Kode Disipliner FIFA.
PSSI menilai Persib melanggar Pasal 67.3 dari Kode Disiplin PSSI yang diterapkan sesuai dengan Kode Disipliner FIFA.
Dalam ketentuan yang berlaku secara global, FIFA menentukan pemaparan simbol politik dalam bentuk apapun dianggap sebagai tindakan yang tidak sesuai yang dapat dikenakan sanksi.
Namun, ketentuan ini mengundang pertanyaan yang lebih mendalam: sejauh apa suatu simbol dapat dianggap terkait dengan politik?
Untuk itu, PSSI mengeluarkan pernyataan melalui Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria.
FIFA tidak memberikan penjelasan secara rinci mengenai unsur apa saja yang dapat dikategorikan sebagai hal yang bersifat politis.
Dengan demikian, jawaban dari pertanyaan itu bisa diformulasikan dengan merujuk pada preseden FIFA dalam menjatuhkan sanksi.
Dalam konteks ini, tentunya sanksi dimaksud adalah sanksi yang dijatuhkan terhadap adanya simbol-simbol yang bersifat politis dalam penyelenggaraan sepakbola baik oleh pemain, klub maupun asosiasi anggota seperti PSSI.
Di penghujung tahun 2016, FIFA menjatuhkan sanksi terhadap beberapa federasi anggotanya di Inggris Raya, termasuk FA negara Inggris, Skotlandia dan Wales.
Sanksi berupa denda tersebut diberikan FIFA terhadap tindakan dari federasi-federasi tersebut dalam mengizinkan tim-tim nasional mereka menggunakan atribut bunga poppies pada seragam yang dikenakan pemain pada pertandingan-pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018.
Hal ini tetap terjadi walaupun – berdasarkan pembelaan setiap federasi – simbol poppies tersebut dipakai untuk memperingati korban perang dan juga menghormati veteran-veteran perang. Perwakilan FIFA menyatakan bahwa institusinya menghargai makna yang terkandung dalam simbol tersebut beserta pihak-pihak yang dihormati dari pemakaian simbolnya.
Akan tetapi FIFA mengambil sikap tegas untuk menerapkan prinsip bahwa sepak bola bebas dari unsur politik, agama dan ras. Prinsip ini diadopsi dari gerakan olimpiade yang diusung oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC), yang keberadaannya juga menjadi induk bagi FIFA dan sepak bola secara global.
Selain FIFA, dalam tingkat regional, konfederasi-konfederasi FIFA juga konsisten dalam menerapkan aturan ini. UEFA - konfederasi sepak bola di benua Eropa – beberapa tahun lalu menjatuhkan sanksi denda kepada beberapa klub anggotanya, termasuk klub kelas dunia seperti Glasgow Celtic FC, karena terdapat beberapa suporter yang ditemukan membawa bendera Palestina saat pertandingan resmi yang diawasi oleh FIFA.
Insiden ini terjadi tidak lama setelah adanya sebuah eskalasi pada konflik Israel-Palestina, yang merupakan salah satu konflik terpanjang dalam sejarah yang berakibat pada jatuhnya demikian banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Alasannya pengenaan sanksi ini juga sama, yakni karena tindakan para suporter tersebut mengandung unsur politik.