Kamis, 16 April 2026

Malang Raya

Arkeolog Malang Sempat Tidak Terima Perajin Pekalongan Diminta Buat Batik Malangan

Dalam launching Batik Mandara di Ubud Cottage Malang, Senin (2/10/2017), terselip cerita tentang terbentuknya tim pencetus Batik Mandara.

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Neneng Uswatun Hasanah
Arkeolog Suwardono pada launching Batik Mandara di Ubud Cottage Malang, Senin (2/10/2017). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Dalam launching Batik Mandara di Ubud Cottage Malang, Senin (2/10/2017), terselip cerita tentang terbentuknya tim pencetus Batik Mandara.

Hal itu diceritakan oleh maestro Batik Pekalongan, Sapuan, dan arkeolog Malang, Suwardono. Sapuan mengatakan sempat diminta kepala daerah untuk membuat batik asli Malang.

"Saat itu Pak Suwardono tidak terima. Masa orang Pekalongan yang diminta membuat batik Malangan. Sementara, Suwardono sudah 12 tahun meneliti motif kain arca Singosari. Sedangkan Lisa sebagai desainer juga sudah bergerak mencari desain yang sesuai," ceritanya.

Suwardono melakukan penelitian untuk merevitalisasi motif kain dari Kerajaan Singasari. Berlatar belakang kecintaannya pada batik, ia ingin motif batik Malangan harus berhubungan dengan asal usulnya.

"Jawa kuno ada kain bermotif lukis dan tenun, jaman itulah masa berdirinya Kerajaan Singasari. Kemudian pada arca Singosari memiliki kain bermotif yang menjadi bukti bahwa kain bermotif ada sejak Kerajaan tersebut," jelasnya.

Tim Batik Mandara menggunakan motif dasar itu sebagai motif kajian revitalisasi di masa sekarang. Nama Mandara diambil dari nama salah satu pohon di surga menurut kepercayaan agama Hindu.

"Warnanya juga diselaraskan dengan motif yang ditemukan di setiap arca dan candi. Jika ditemukan di sisi timur, diberi warna putih . Atau jika ditemukan di Malang selatan diberi warna merah," tuturnya.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved