Senin, 1 Juni 2026

Kabupaten Malang

Peternak Animal Welfare di Dau Kabupaten Malang Tidak Terpengaruh Harga Telur Pasar

Peternak telur ayam kampung dengan sistem free range atau umbaran yang berada di kawasan Kecamatan Dau, Kabupaten Malang

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko
ISTIMEWA
PETERNAKAN - Kegiatan peternakan kesejahteraan hewan di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Para peternak organik tidak terpengaruh kenaikan harga telur broiler, namun mereka merasakan penurunan omset hingga 40 persen. 

Ringkasan Berita:
  • Peternak telur ayam di Malang Raya memilih mengambil jalan berbeda, di tengah kenaikan harga pakan ternak akibat menguatnya dolar Amerika Serikat
  • Mereka mempertahankan konsep peternakan organik dan animal welfare (kesejahteraan hewan) meski keuntungan terus tergerus
  • Peternak telur ayam kampung dengan sistem free range atau umbaran yang berada di kawasan Kecamatan Dau, Kabupaten Malang

SURYAMALANG.COM, KABUPATEN MALANG – Di tengah kenaikan harga pakan ternak akibat menguatnya dolar Amerika Serikat, sebagian peternak telur ayam di Malang Raya memilih mengambil jalan berbeda.

Tidak mengikuti harga pasar, mereka justru mempertahankan konsep peternakan organik dan animal welfare (kesejahteraan hewan) meski keuntungan terus tergerus.

Salah satunya dilakukan Ghofur, peternak telur ayam kampung dengan sistem free range atau umbaran yang berada di kawasan Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Berbeda dengan peternakan ayam petelur pada umumnya yang menggunakan sistem kandang baterai, Ghofur membiarkan ayam-ayamnya hidup bebas di area terbuka.

“Kalau kandang pada umumnya dibaterai, kami tidak pakai baterai. Ayamnya kami umbar, dibiarkan bebas,” kata Ghofur kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (28/5/2026).

Ia menjelaskan sistem peternakan miliknya lebih mengarah pada pendekatan organik dan kesejahteraan hewan.

Menurutnya, konsep tersebut sengaja dipilih karena ingin menghadirkan produk telur yang lebih sehat sekaligus mengembalikan pola peternakan tradisional seperti masa lalu.

“Saya ingin mengembalikan peternakan seperti zaman dulu, memakai lahan belakang rumah,” ujarnya.

Ghofur mengaku produk telurnya memang tidak mengikuti harga pasar telur biasa.

Sebab sistem produksi, jenis pakan, hingga perawatan ternak yang digunakan berbeda dibanding peternakan komersial pada umumnya.

“Kami tidak mengikuti harga pasar, kami punya harga sendiri,” katanya.

Baca juga: Harga Telur Konsisten Naik, Kondisi di Kota Malang Masih Landai, Belum Ada Gejolak

Telur yang diproduksinya dijual dalam kemasan kotak berisi 10 butir dengan harga Rp 45 ribu per kotak.

Saat ini, produksi telur dari peternakan miliknya masih terbatas. Dalam sehari, ia rata-rata hanya mampu menjual sekitar 15 kotak telur.

“Populasinya masih sedikit. Sementara ini kami jual dalam bentuk kotak isi 10 butir,” ujarnya.

Menurut Ghofur, pasar telur organik memang memiliki segmen khusus dan tidak bisa disamakan dengan pasar telur biasa. Ia menyebut sebagian besar konsumennya adalah masyarakat khusus.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved