Malang Raya
Gunung Arjuno Bawa Universitas Brawijaya Raih Juara Kompetisi Jembatan untuk Kelima Kalinya
Ngakan Made Nabil Akmal mengatakan keunggulan jembatan baja yang mereka buat adalah konfigurasi unik yang terinspirasi dari Gunung Arjuno
Penulis: Neneng Uswatun Hasanah | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Persiapan tim Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) Malang selama 1,5 bulan untuk mengikuti Kompetisi Jembatan Indonesia 2017, terbayar sudah. Tim yang terdiri dari mahasiswa Jurusan Teknik Sipil itu berhasil membawa pulang piala juara umum untuk kali kelima.
Kompetisi yang diadakan oleh Kemenristekdikti pada 9-12 November 2017 di Polinema itu terdiri atas 3 kategori lomba, yaitu kategori jembatan busur, jembatan canai dingin, dan jembatan baja. Tim FT UB meraih juara 1 jembatan busur dan jembatan baja, serta peringkat dua jembatan canai dingin.
Ketua tim lomba, Ngakan Made Nabil Akmal mengatakan keunggulan jembatan baja yang mereka buat adalah konfigurasi unik yang terinspirasi dari Gunung Arjuno.
"Jadi bentuknya cenderung tidak simetris dan tidak terlalu banyak memiliki batang tegak yang seringkali diaplikasikan di jembatan," jelas mahasiswa semester 7 itu pada SURYAMALANG.COM, Kamis (23/11/2017).
Konfigurasi unik itu membuat jembatan baja mereka mendapatkan juara kategori terindah dan metode konstruksi terealistis.
"Kami juga mendapatkan juara kategori tercepat untuk jembatan baja dengan waktu perakitan 14 menit dari waktu total 3 jam yang disediakan," lanjut Nabil.
Keindahan konfigurasi jembatan juga diimbangi dengan kekokohan untuk beban 300 kg untuk model jembatan skala 1:10 dengan berat total 34 kg.
Sedangkan untuk kategori jembatan busur, keunggulan bangunan jembatan mereka ada pada bobot yang ringan namun bisa menghasilkan lendutan yang kecil. Pada kategori tersebut, pembuatan jembatan menggunakan bahan rotan dengan bentuk jembatan melengkung seperti busur.
"Sebenarnya semakin kuat atau kokoh jembatan, maka selain kecil lendutan. Namun kami berinovasi dengan bobot jembatan yang ringan tapi tetap bisa menghasilkan lendutan kecil. Yaitu caranya adalah mengurangi batang tegak dan memperkuat di bagian sambungan jembatan," jelas Nur Rachman, wakil ketua tim lomba.
Persiapan dan latihan yang mereka lakukan sebelum lomba tidaklah proses yang singkat. Mereka mempersiapkan diri selama 1,5 bulan dengan percobaan sebanyak 20 kali untuk tiap-tiap kategori.
"Selama 1,5 bulan jadi sering menginap di laboratorium untuk persiapan. Tapi hasilnya memang bagus. Karena kami hampir sama sekali tidak merasakan kendala saat lomba," tutur Rachman.
Keberhasilan mereka mempertahankan juara umum untuk kali kelima ini diapresiasi oleh universitas dan fakultas.
"Ada tambahan uang pembinaan dari total hadiah Rp 31 juta yang kami raih dari lomba. Sebagian besar digunakan untuk persiapan lomba selanjutnya," tutupnya.