Surabaya

Terungkap, Anak Pelaku Pengeboman Ada yang Menolak dan Melawan Doktrin Orangtuanya

Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud menuturkan, anak-anak para pelaku sudah didoktrin pemahaman teror sejak kecil.

Penulis: fatkhulalami | Editor: Dyan Rekohadi
Twitter @infosurabaya
"Anak terduga pelaku bom bunuh diri di pintu gerbang Polrestabes Surabaya Jalan Sikatan masih selamat ledakan bom," tulis akun @infosurabaya 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA -Keterkaitan peristiwa dan pelaku teror bom di Surabaya dan Sidoarjo semakin terbuka setelah polisi mengungkap identitas semua pelakunya.

Berdasarkan data yang didapat polisi, pelaku serangan bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo merupakan satu jaringan.

Mirisnya, pelaku pengeboman ini melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak mereka.

Ada tiga keluarga yang menjadi pelaku pengeboman di tiga gereja, di Mapolrestabes dan di Rusunawa Wonocolo Sepanjang Sidoarjo.

Tercatat ada tujuh remaja dan anak pelaku yang tewas dalam teror bom di Surabaya.

Sedangkan empat anak pelaku lainnya selamat meski dilibatkan dalam peledakan bom.

Polisi mengungkap keterlibatan anak-anak para pelaku itu sudah disiapkan jauh hari.

Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin menjelaskan, para pelaku ini berguru ke Dita  Oeprianto (sblmnya tertulis Supriyanto).

Mereka ini melakukan pertemuan setiap minggu di rumah Dita di Rungkut Surabaya.

"Mereka ini satu jaringan, satu guru. Gurunya Dita ini. Mereka didoktrin pemahaman-pemahaman teror," jelas Machfud di Mapolda Jatim, Selasa (15/5/2018) pagi.

Machfud menuturkan, anak-anak para pelaku sudah didoktrin pemahaman teror sejak kecil.

Mereka menanamkan doktrin dan lihat film-film soal terorisme.

"Bahkan, anak-anak pelaku dilarang sekolah. Kalau ditanya, disebut home scoling, itu tidak benar. Ya tak boleh sekolah. Anak-anak didoktrin terus, ditontonkan video pemahaman," ucap Machfud.

Tapi rupanya tidak semua anak pelaku pengeboman itu yang menuruti orangtuanya saat dicekoki paham radikal.

Machfud menyebut ada satu anak dari pelaku Sidoarjo (Anton) yang tak mau ikut ajaran yang ditanamkan.

Dia memilih ikut neneknya dan memutuskan bersekolah.

Seperti diketahui dalam ledakan bom di Rusunawa Wonocolo Sepanjang Sidoarjo, hanya satu anak yang ikut tewas bersama orangtuanya.

Tiga anak Anton yang lain selamat dari ledakan.

Belum diketahui siapa dari anak-anak Anton yang berani menolak paham radikal yang ditanamkan orangtuanya itu.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved