Jendela Dunia
Pesan Ramadan Donald Trump Gegerkan Umat Muslim Dunia, Simak Penuturannya
Pada Ramadan tahun lalu, Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri menolak tradisi buka puasa bersama. Pada tahun ini...
SURYAMALANG.com - Menyambut bulan Ramadan dan menggelar buka puasa telah menjadi kebiasaan Gedung Putih.
Namun, ketika masa pemerintahan Donald Trump, kebiasaan baik tersebut nampak berubah.
Pada Ramadan tahun lalu, Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri menolak tradisi buka puasa bersama.
Hubungan antara sebagian besar muslim Amerika dan Trump memburuk sejak masa pencalonannya.
Pada saat itu, Trump mengusulkan melarang keberadaan umat muslim di Amerika Serikat.
Hal ini dilakukan sebagai tindak pengamanan terhadap terorisme.
Parahnya lagi, di tahun 2016 ia mulai menganjurkan aksi pengintaian Masjid.
Sebagian besar simpatisan Partai Republik mendukung proposal Trump.
Akan tetapi, pada pemungutan suara, mayoritas orang Amerika berpikir bahwa kebijakan Trump telah merugikan umat Islam.
Nah, Ramadan tahun ini ada yang berbeda.
Pada hari Selasa (15/5/2018) gedung Putih merilis sebuah pernyataan dengan nada yang sangat berbeda.
Melansir Washington Post, pernyataan tersebut berisi bahwa libur puasa selama sebulan dimulai pada hari minggu ini.
"Gedung Putih menyatakan bahwa keberadaan umat Muslim menambah permadani agama kehidupan Amerika oleh sebab itu libur selama liburan akan dimulai pada minggu ini," begitu bunyi pesan tersebut.
"Bersama Departemen Luar Negeri, Gedung Putih menyatakan akan menjadi tuan rumah iftar atau buka puasa pada awal Juni," ujar Ray Mahmood, seorang pengembang property Muslim terkemuka yang telah lama terlibat dalam diplomasi antar agama di wilayah D.C.
Mahmood juga menambahkan bahwa pemerintah telah mengabulkan salah satu permintaan umat muslim di Amerika Serikat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/trump-isis-al-shahaab_20160102_122205.jpg)