6 Amalan Sunah Idul Adha yang Sebaiknya Tidak Ditinggalkan, dari Mandi sampai Potong Rambut
Dari mandi, potong kuku, sampai potong rambut. Bahkan berjalan kaki pun dianjurkan saat menuju sholat Idul Adha
Penulis: Insani Ursha Jannati | Editor: Adrianus Adhi
SURYAMALANG.COM - Hari Lebaran Haji sudah di depan mata, sesuai perhitungan kalender Hijriyah, maka Idul Adha akan datang petang hari ini, Selasa 21 Agustus 2018.
Di hari besar Islam yang datang setahun sekali ini, umat Muslim akan menjalankan kegiatan kurban sebagai tanda syukur dan berbagi atas rahmat Allah yang telah diberikan.
Melansir laman resmi Nahdlatul Ulama www.nu.or.id dalam artikel "Enam Amalan Sunnah di Idul Adha" yang terbit 14 Oktober 2013, umat Islam dianjurkan menjalankan 6 amalan berikut sebagai upaya penyempurnaan ibadah yang tak bisa dinikmati setiap hari.
Apa sajakah amalan itu?
1. Mengumandangkan Takbir di Masjid-masjid
Sama halnya dengan Idul Fitri, penanda datangnya Idul Adha adalah takbir-takbir yang dikumandangkan di berbagai penjuru pada malam sebelum sholat Idul Adha dilaksanakan.
Dimulai dari terbenamnya Matahari sampai imam naik ke mimbar untuk berkhutbah pada hari raya idul fitri dan sampai hari terakhir tanggal 13 Dzulhijjah pada hari tasyriq.
Kenapa?
Lantaran malam tersebut adalah malam yang mulia untuk mengagungkan, memuliakan, dan menghidupkan nama Allah sebagaimana terdapat dalam Kitab Raudlatut Thalibin
فَيُسْتَحَبُّ التَّكْبِيرُ الْمُرْسَلُ بِغُرُوبِ الشَّمْسِ فِي الْعِيدَيْنِ جَمِيعًا، وَيُسْتَحَبُّ اسْتِحْبَابًا مُتَأَكَّدًا، إِحْيَاءُ لَيْلَتَيِ الْعِيدِ بِالْعِبَادَةِ
Maknanya: Disunahkan mengumandangkan takbir pada malam hari raya mulai terbenamnya matahari, dan sangat disunahkan juga menghidupkan malam hari raya tersebut dengan beribadah.
Selain itu, di malam ini sebagian fuqaha' (sebutan bagi ahli fiqih secara majemuk) menerangkan kalau menjalankan sholat Maghrib, Isya, dan Subuh berjamaah juga dianjurkan.
2. Perempuan dan Laki-laki Mandi sebelum Jalankan Sholat Id
Boleh sebelum Subuh menjelang, namun paling utama adalah sesudah waktu Subuh.
Tujuan utamanya tentu membersihkan tubuh dan menghilangkan bau tak sedap.
Selain itu, agar tubuh kembali segar sehingga sholat bisa dijalankan dengan khusyuk.
Namun bila mandi saat pertengahan malam, dikhawatirkan tubuh kembali berkeringat dan bau.
يُسَنُّ الْغُسْلُ لِلْعِيدَيْنِ، وَيَجُوزُ بَعْدَ الْفَجْرِ قَطْعًا، وَكَذَا قَبْلَهُ، ويختص بالنصف الثاني من الليل
Disunnahkan mandi untuk sholat Id, untuk waktunya boleh setelah masuk waktu subuh atau sebelum subuh, atau pertengahan malam.
Tak ada batasan kelamin untuk sunah ini, bahkan perempuan yang sedang udzur syar’i dan tak bisa jalankan sholat Id tetap dianjurkan mandi.
3. Memakai Wangi-wangian, Memotong Rambut dan Kuku, Menghilangkan Bau Tak Sedap
Tujuan utamanya adalah agar memperoleh keutamaan Idul Adha.
Pada hakikatnya, tiga hal ini boleh dilakukan kapan saja selama memungkinkan.
Kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab menuliskan amalan sunnah ini:
والسنة أن يتنظف بحلق الشعر وتقليم الظفر وقطع الرائحة لانه يوم عيد فسن فيه ما ذكرناه كيوم الجمعة والسنة أن يتطيب
Disunnahkan pada hari raya Id membersihkan anggota badan dengan memotong rambut, memotong kuku, menghilangkan bau badan yang tidak enak, karena amalan tersebut sebagaimana dilaksanakan pada hari Jum’at, dan disunnahkan juga memakai wangi-wangian.
4. Berpakaian Paling Baik, Bersih, dan Suci
Untuk poin pertama, jika tak punya, maka cukup kenakan pakaian bersih dan suci.
Sebagian ulama mengatakan bahwa pakaian putih dan memakai serban diutamakan, ini ditujukan kepada para pria baik yang ikut sholat Id maupun tidak; misalnya satpam atau siapa pun yang sedang bertugas menjaga keamanan lingkungan.
Bagi kaum perempuan, maka cukup berpakaian sehari-hari karena berdandan berlebihan justru masuk hukum makruh, termasuk memakai wangi-wangian berlebihan.
Dalam Kitab Raudlatut Thalibin dijelaskan:
وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَلْبَسَ أَحْسَنَ مَا يَجِدُهُ مِنَ الثِّيَابِ، وَأَفْضَلُهَا الْبِيضُ، وَيَتَعَمَّمُ. فَإِنْ لَمْ يَجِدْ إِلَّا ثَوْبًا، اسْتُحِبَّ أَنْ يَغْسِلَهُ لِلْجُمُعَةِ وَالْعِيدِ، وَيَسْتَوِي فِي اسْتِحْبَابِ جَمِيعِ مَا ذَكَرْنَاهُ، الْقَاعِدُ فِي بَيْتِهِ، وَالْخَارِجُ إِلَى الصَّلَاةِ، هَذَا حُكْمُ الرِّجَالِ. وَأَمَّا النِّسَاءُ، فَيُكْرَهُ لِذَوَاتِ الْجَمَالِ وَالْهَيْئَةِ الْحُضُورُ، وَيُسْتَحَبُّ لِلْعَجَائِزِ، وَيَتَنَظَّفْنَ بِالْمَاءِ، وَلَا يَتَطَيَّبْنَ، وَلَا يَلْبَسْنَ مَا يُشْهِرُهُنَّ مِنَ الثِّيَابِ، بَلْ يَخْرُجْنَ فِي بِذْلَتِهِنَّ.
Disunahkan memakai pakaian yang paling baik, dan yang lebih utama adalah pakaian putih dan juga memakai serban. Jika hanya memiliki satu pakaian saja, maka tidaklah mengapa ia memakainya.
Ketentuan ini berlaku bagi kaum laki-laki yang hendak berangkat sholat Id maupun yang tidak.
Sedangkan untuk kaum perempuan cukuplah ia memakai pakaian biasa sebagaimana pakaian sehari-hari, dan janganlah ia berlebih-lebihan dalam berpakaian serta memakai wangi-wangian.
Sabda Nabi SAW berikut memberi penjelasan tentang memakai pakaian yang paling baik, riwayat dari Sahabat Ibnu Abbas RA,
كَانَ يلبس في العيد برد حبرة
Rasulullah SAW di Hari Raya memakai Burda Hibarah (pakaian yang indah berasal dari Yaman).
5. Berjalan Kaki Menuju Masjid Sholat Id
Lebih baik berjalan kaki bagi yang mampu, diperbolehkan menggunakan kendaraan bagi yang berumur dan tak kuat berjalan.
Maksud utamanya adalah, dengan berjalan kaki, maka jamaah saling bertegur sapa, mengucapkan salam, juga bisa ber-mushafahah (bersalam-salaman) sesama kaum muslimin.
Sebagaimana sabda Nabi SAW riwayat dari Ibnu Umar:
كَانَ يَخْرُجُ إلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا
Rasulullah SAW berangkat untuk melaksanakan sholat Id dengan berjalan kaki, begitupun ketika pulang tempat sholat Id.
Berangkat lebih awal juga dianjurkan agar mendapatkan shaf atau barisan depan.
Sambil menunggu sholat dilaksanakan, bisa mengikuti takbir berjamaah.
Imam Nawawi dalam Kitabnya Raudlatut Thalibin menerangkan anjuran tersebut:
السُّنَّةُ لِقَاصِدِ الْعِيدِ الْمَشْيُ. فَإِنْ ضَعُفَ لِكِبَرٍ، أَوْ مَرَضٍ، فَلَهُ الرُّكُوبُ، وَيُسْتَحَبُّ لِلْقَوْمِ أَنْ يُبَكِّرُوا إِلَى صَلَاةِ الْعِيدِ إِذَا صَلَّوُا الصُّبْحَ، لِيَأْخُذُوا مَجَالِسَهُمْ وَيَنْتَظِرُوا الصَّلَاة
Bagi yang hendak melaksanakan sholat Id disunahkan berangkat dengan berjalan kaki, sedangkan untuk orang yang telah lanjut usia atau tidak mampu berjalan maka boleh ia menggunakan kendaraan.
Disunahkan juga berangkat lebih awal untuk sholat Id setelah selesai mengerjakan sholat Subuh, untuk mendapatkan shaf atau barisan depan sembari menunggu dilaksanakannya shalat.
6. Makan setelah Sholat Idul Adha
Bila Idul Fitri justru dianjurkan sebelum berangkan sholat Idul Fitri, maka di Hari Idul Adha ini justru setelah laksanakan sholat.
Diriwayatkan dari Sahabat Buraidah RA:
عن بريدة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يخرج يوم الفطر حتى يطعم ويوم النحر لا يأكل حتي يرجع
Bahwa Nabi SAW tidak keluar pada Hari Idul Fitri sampai beliau makan, dan pada Hari Idul Adha sehingga beliau kembali ke rumah.
Diriwayatkan juga dari Sahabat Anas RA:
نَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَخْرُجُ يوم الفطر حتى يأكل تمرات ويأكلهن وترا
Rasulullah SAW tidak keluar pada hari raya Idul Fitri sampai beliau makan beberapa kurma yang jumlahnya ganjil.
Artinya, anjuran makan di Hari Idul Adha adalah setelah sholat Id.
Lebih baik bila memakan kurma karena makanan pokok di Arab adalah kurma.
Bila di Indonesia nasi, maka diperbolehkan makan nasi atau disesuaikan makanan pokok daerah tersebut.
*) Ejaan sesuai KBBI adalah "salat" namun banyak orang menuliskan "sholat"