Akar Historis Waditra Jimbe Versi 'Kendang Sentul'

Demi mendengar sebutan "Jimbe", asosiasi orang tertuju pada Blitar, tepatnya Blitar Raya. Paling tidak ada dua lokasi yang berkenaan dengan "Jimbe".

Akar Historis Waditra Jimbe Versi 'Kendang Sentul' - festival-musik-kendang-djembe-di-kota-blitar_20180828_235031.jpg
Festival musik kendang Djembe di Kota Blitar.
Akar Historis Waditra Jimbe Versi 'Kendang Sentul' - festival-musik-kendang-djembe-di-kota-blitar_20180828_235159.jpg
Festival musik kendang Djembe di Kota Blitar.
Akar Historis Waditra Jimbe Versi 'Kendang Sentul' - festival-musik-kendang-djembe-di-kota-blitarpermainan-musik-kendang-djembe-di-kota-blitar_20180828_235312.jpg
Permainan musik kendang Djembe di Kota Blitar.

Sebutan "tledek Jimbe" familiar di kalangan para "penayup". Uniknya, antara tahun 1960 hingga 1980-an di daerah Blitar dan sekitarnya terdapat perkataan jorok yang mengaitkan alat vital perempuan dengan Jimbe.

Begitulah, sebagai toponimi, sebutan "Jimbe" cukup dikenal khalayak. Bahkan, kakawin Nagarakretagama (1365 Masehi) pun turut menyebut "Jimbe"sebagai tempat yang langganan disinggahi oleh maharaja Hayam Wuruk manakala bertandang ke wilayah Balitar (kini "Blitar") setiap pada musim penghujan.

Kedua, sebutan "Jimbe" dikenal dalam hubungan dengan instrumen musik (waditra), yang lazim disebut "Kendang Jimbe" karena Kelurahan Sentul di dalam wilayah Kota Blitar merupakan produsen kendang jimbe, yang dikenal juga dengan sebutan "Kendang Sentul".

Hasil produksi jimbe dari Blitar dipasarkan di daerah Blitari senfiri, namun lebih banyak jusru dipasarkan di luar daerah Blitar -- tanpa orang tahu bahwa sesungguhnya daerah produsennya di Kota Blitar. Tergambar bawa Jimbe dikenal mulai dari "setan Jimbe" hingga "kendang jimbe"-nya.

B. Versi Lokal Jawa untuk Waditra Jimbe

Sesungguhnya, sebutan "Jimbe" di dalam bahasa Indonesia merupakan istilah serapan dari bahasa Mali (suatu negara di Afrika), yakni Djembe".

Kata "djembe" yang menunjuk kepada waditra (music instrument) jenis membraphone ini berasal dari peribahasa lokal Mali "anke dje, anke be", yang berarti: semua orang berkumpul (dje) dalam damai (be)".

Dari unsur kata 'dje + be" kemudian muncull pelafalan "djembe". Sesuai dengan arti peribahasa itu, pada mulanya djembe dijadikan sebagai perangkat musika untuk memicu kehadiran orang di suatu tempat dan untuk menghibur banyak orang dalam spirit "sosio-art" untuk menciptakan kondisi sosial yang penuh kedamaian.

Instrumen musik djembe yang telah hadir di kerajaan Mali paling tidak pada abad XII Masehi ini kemudian popoler di antero Afrika, bahkan mampu berdifusi hingga keluar benua Afrika, tak terkecuali ke Indonesia.

Nama asal dari waditra ini, yakni "Djembe", diserap ke dalam bahasa Indonesia (proses naturalisasi) menjadi "Jimbe". Oleh sebab bentuknya yang menyerupai membraphone Nusantara, yang dalam sebutan lokal Jawa dinamai "kendang", maka kata "Jimbe" dilekatkan setelah kata "kendang" menjadi "Kendang Jimbe".

Halaman
1234
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved