Sabtu, 11 April 2026

Jember

Melihat dari Dekat Penambangan Emas Ilegal di Gunung Manggar, Jember

Berdasarkan data dari Perhutani Jember, kawasan sekitar 4 hektare dari total 41 hektare di Gunung Manggar yang ditambang warga secara ilegal.

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: yuli
sri wahyunik
Razia para penembang emas ilegal di Gunung Manggar, Jember, Kamis (20/9/2018) oleh petugas gabungan Polri, TNI, dan Perhutani. 

SURYAMALANG.COM, JEMBER - Hampir enam tahun berjalan, penambangan emas ilegal masih berlangsung di Gunung Manggar Kecamatan Wuluhan.

SuryaMalang.com pernah mendatangi kawasan pertambangan liar itu dan menulisnya tahun 2013. Ketika itu, merupakan awal adanya penambangan emas di kawasan tersebut.

Pada Kamis (20/9/2018), SuryaMalang.com kembali mendatangi Gunung Manggar. Rupanya penambangan liar di hutan jati yang dikelola Perhutani itu masih juga berjalan. Meskipun dengan jumlah penambangan berkurang banyak dibandingkan enam tahun lalu.

"Sekarang tinggal sedikit. Memang tiap hari masih saja ada yang menambang. Sekarang kayaknya tinggal ratusan, tidak tahu pasti. Mungkin seratusan orang tiap hari. Kalau awal dulu, wah bisa ribuan orang datang. Menurun sudah tiga tahun terakhir," ujar Suyitno, seorang petani yang memiliki ladang garapan di bawah Gunung Manggar.

Ketika SuryaMalang.com mendatangi Gunung Manggar, Kamis (20/9/2018), bersama petugas gabungan Polri, TNI, dan Perhutani Jember untuk melakukan razia tambang emas itu.

Sekitar 100 personel gabungan mendatangi kawasan itu, Kamis (20/9/2018) siang. Saat petugas datang, tidak ada satu pun penambang beraktifitas di lubang-lubang tambang itu. Penambangan berada di petak 14-A dan 14-B Gunung Manggar. Berdasarkan data dari Perhutani Jember, kawasan sekitar 4 hektare dari total 41 hektare di Gunung Manggar yang ditambang warga secara ilegal.

Penambangan ilegal itu dilakukan secara manual. Perhutani maupun pemerintah tidak pernah memberikan izin tambang di kawasan itu.

Meskipun tidak ada penambang, petugas menemukan belasan lubang. Dari hitungan Surya di satu gundukan bukit terdapat sekitar 20 lubang. Belum lagi di beberapa gundukan lain di dua petak tersebut. Petugas akhirnya menutup lubang-lubang itu dan membakar sejumlah peralatan yang diduga milik penambang.

Polisi mengamankan beberapa barang seperti genset, blower, dan bebatuan di sebuah zak kecil. Dari pantauan Surya di sekitar lubang, ada peralatan lain seperti wajan dan peralatan masak, galon air masih berisi air bersih, juga perkakas dari plastik. Petugas juga menemukan terpal, dan dipan bambu. Dari peralatan yang tertinggal, terlihat masih adanya aktifitas pertambangan di tempat itu.

Surya sempat mengamati bebatuan berwarna putih yang menumpuk di sekitar lubang. Seorang Polisi Hutan menunjukkan adanya bintik berkilauan di bebatuan itu. "Mungkin ini yang mereka sebut emas," ujar polisi hutan itu.

Administratur Perhutani Jember Basuki menuturkan, masih tersisa sekitar seratusan lubang di Gunung Manggar. "Kalau per lubang dikerjakan oleh empat orang, mungkin ada sekitar 400 orang yang masih menambang. Tentunya jumlah ini berkurang sangat banyak dibandingkan beberapa tahun silam," kata Basuki.

Meskipun jumlahnya berkurang, kata Basuki, pihaknya akan terus melakukan patroli dan penutupan lubang tambang emas ilegal itu. "Sampai tidak adanya penambangan lagi. Kami juga terus sosialisasi supaya tidak ada penambangan di sini," kata Basuki.

Pihaknya mengakui kendala jumlah personel sehingga tidak bia secara maksimal melakukan patroli di kawasan tersebut.

Sementara itu Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo menegaskan pihaknya bersama Perhutani dan TNI akan secara berkala merazia tambang itu. 'Akan kami lakukan sebulan sekali sampai tidak ada lagi penambangan di sini," tegas Kusworo. Razia itu diharapkan memberikan efek jera kepada penambang liar.

Tambang di Gunung Manggar bisa disebut sebagai tambang emas satu-satunya di Jember yang ditambang secara ilegal oleh warga. Meskipun tidak pernah ada penelitian kandungan tanah Gunung Manggar, sejak tahun 2013 lalu, sejumlah warga berkeyakinan ada kandungan emas di gunung itu, hingga membuat ribuan orang berduyun-duyun mendatangi gunung itu.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved