Lumajang

Palsukan SKAB Pasir Dengan Kerugian Rp 1,3 Miliar, Tiga Tersangka Diamankan Pores Lumajang

Ketiga tersangka melakukan tindakan premanisme dengan membuat dan memperjualbelikan SKAB palsu tersebut milik PT LJS

Palsukan SKAB Pasir Dengan Kerugian Rp 1,3 Miliar, Tiga Tersangka Diamankan Pores Lumajang
surya malang/Sri Wahyunik
Barang bukti SKAB pasir palsu yg disita polisi 

SURYAMALANG.COM, LUMAJANG - Jajaran Satreskrim Polres Lumajang menyidik perkara dugaan pemalsuan Surat Keterangan Asal Barang (SKAB) pasir Lumajang. Pemalsuan SKAB itu diikuti dengan jual beli SKAB itu sehingga ada kerugian sekitar Rp 1,3 miliar.

Kasatreskrim Polres Lumajang, AKP Hasran menjelaskan, pihaknya telah menangkap tiga orang dalam kasus itu. "Mereka disangka telah membuat dan mengedarkan SKAB palsu," kata Hasran kepada SURYAMALANG.COM, Sabtu (29/9/2018).

Polisi menangkap ketiga orang itu di areal pertambangan Desa Jugosari Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang.

Ketiga orang itu adalah Eko Cahyono (40) warga Desa Pagowan Kecamatan Pasrujambe, Lumajang, Wuwun Karyanto (41) asal Desa Jambearum Kecamatan Pasrujambe, dan Rizal Malik (35) karyawan PT Lumajang Jaya Sejahtera (LJS).

Menurut Hasran, ketiga orang itu melakukan tindakan premanisme dengan membuat dan memperjualbelikan SKAB palsu tersebut. SKAB yang dipalsukan adalah milik PT LJS.

"Pelaku membuat dan menggunakan SKAB palsu atas nama PT LJS untuk mengeluarkan pasir dari lokasi tambang, sehingga ada kerugian material sekitar Rp 1,3 miliar," imbuh Hasran.

Peristiwa itu dilakukan sejak awal September hingga 26 September 2018. Pelapor dalam peristiwa itu adalah Dirut PT LJS Sujatmiko.

Barang bukti yang disita antara lain 19 bendel nlanko SKAB palsu, satu bendel surat jalan excavator, juga uang tunai Rp 400.000. Uang itu merupakan hasil penjualan pasir, yang diamankan ketika pelaku tertangkap polisi.

Ketiga orang ini memiliki peranan masing-masing. Berdasarkan peranan itu pula, polisi menjerat ketiganya dengan pasal berbeda.

Polisi menjerat Rizal dengan Pasal 374 KUHP tentang penggelapan dengan pemberatan, dan Pasal 263 KUHP tentang Pemalsuan junto Pasal 55 KUHP. Rizal disangka melakukan penggelapan karena dia adalah karyawan di tempat usaha pertambangan pasir itu.

Sedangkan EKo dan Wuwun dijerat memakai Pasal 263 KUHP tentang Pemalsuan, junto Pasal 55 KUHP.

"Kami masih mengembangkan kasus ini apakah ada pelaku lain yang terkait," pungkas Hasran.

Soal jual beli SKAB, termasuk pemalsuan SKAB ini sebelumnya pernah disinggung oleh Bupati Lumajang Thoriqul Haq. Dalam wawancara kepada SURYAMALANG.COM, Thoriq ingin menertibkan dan memodernkan retribusi pasir itu, antara lain melalui e-retribusi. Penggunaan teknologi itu, kata Thoriq, diharapkan bisa menekan jual beli SKAB dan SKAB palsu ini.

"Jadi SKAB ini tidak bisa diperjualbelikan ketika sudah elektronik. Cukup tunjukkan kartu yang sudah terkoneksi dengan sistem e-retribusi, maka barang seperti pasir sudah bisa diketahui dari mana asalnya. Kenapa harus dilakukan karena pasir itu potensi sumber daya alam yang ada di Lumajang, dan harusnya menyumbang PAD (pendapatan asli daerah) yang besar," tegasnya.

Ketika terjadi SKAB palsu, juga jual beli SKAB secara tidak bertanggungjawab, maka pendapatan Pemerintah Kabupaten Lumajang juga berkurang.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved