Kabar Mojokerto

Pengolahan Sampah Berlanjut di Situs Sambeng, Peninggalan Majapahit Akhir

Warga Dusun Sambeng Desa Belahan Tengah Kecamatan Mojosari, Mojokerto, dan Komunitas Genta Majapahit berunjuk rasa di lokasi situs.

Pengolahan Sampah Berlanjut di Situs Sambeng, Peninggalan Majapahit Akhir
danendra kusuma
Petugas BPCB tengah melakukan pengukuran batu bata merah. Batu bata merah tersebut merupakan bagian dari situs purbakala yang ditemukan di Dusun Sambeng, Desa Belahan Tengah, Mojosari, Kabupaten Mojokerto. 

SURYAMALANG.COM, MOJOKERTO - Sepekan lalu, warga Dusun Sambeng Desa Belahan Tengah Kecamatan Mojosari, Mojokerto, dan Komunitas Genta Majapahit berunjuk rasa di lokasi situs purbakala era akhir Majapahit.

Mereka menuntut agar situs di Dusun Sambeng dijadikan sebuah museum daerah. Selain itu juga menuntut supaya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dipindahkan.

Pasalnya, Pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto tengah menggarap proyek perluasan serta pagar pembatas TPA.

Alat berat yang digunakan untuk menggali dinilai warga merusak sebagian batu bata merah kuno. Maka dari itu, mereka ingin situs Sambeng dijadikan sebagai museum daerah agar situs tak lagi dirusak oleh kegiatan dan pembangunan TPA.

Namun, tudingan tersebut langsung ditepis oleh Kepala DLH Kabupaten Mojokerto Zainul Arifin. Pihaknya tak merusak situs perkampungan Majapahit di Dusun Sambeng, Desa Belahan Tengah, Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Zainul mengatakan, penggalian tanah di sisi timur TPA Belahan Tengah bukanlah proyek perluasan TPA. Di sisi lain pula proyek perluasan telah rampung sebelum pertengahan Desember, atau sebelum dilakukannya ekskavasi pada tanggal 13-23 Desember lalu.

"Penggalian tanah di dalam areal perluasan TPA Belahantengah, (tepatnya di sebelah timur titik ekskavasi utama situs Sambeng) yakni untuk membuat sumur lindi. Dan itu sudah sesuai hasil rapat tidak boleh ada aktivitas di dalam lokasi situs. Penggalian tanah dengan alat berat itu kan di luar lokasi situs," ujarnya Minggu (30/12).

Dirinya melanjutkan, keinginan warga menjadikan situs sambeng sebuah museum daerah hanyalah mimpi belaka. Sebab, tanah tersebut merupakan aset Pemerintah Daerah (Pemda).

"Silakan, itu kan keinginan warga. Namun itu juga aset Pemda. Tidak mudah proses pengalihan aset. Itu hanyalah mimpi saja, biarkan saja lah. kami akan tunggu hasil penelitian tim ahli," paparnya.

Pihaknya juga menyambut baik, apabila tim ahli mengeluarkan rekomendasi agar situs Sambeng ditetapkan sebagai cagar budaya yang harus dilestarikan. Meskipun di area TPA terdapat cagar budaya, pihaknya tidak akan menghentikan aktivitas pengolahan sampah.

"TPA tak mungkin berhenti, sampah mau dikemanakan. Sementara, biaya untuk membangun lokasi perluasan juga mahal. sayang, kalau tidak dimanfaatkan. Situs di dalam kan aman-aman saja. Aktivitas yang kami lakukan di luar situs itu," ungkapnya.

Tak berhenti di situ, para warga juga melayangkan protes terhadap DLH terkait kegiatan droping sampah di area perluasan TPA. Droping sampah dianggap warga dapat menimbun struktur batu bata merah yang diduga masih berada di dalam tanah.

Zainul pun menanggapi protes warga terkait droping sampah. Dia menjelaskan bahwa dropjng sampah dilakukan di wilayah TPA. TPA sendiri diperuntukkan untuk mengelola sampah, jadi droping sampah harus tetap dilakukan.

"Kalau tidak dikelola di TPA, mau dikelola di mana? Yang jelas itu resmi wilayah TPA," pungkasnya.

Penulis: Danendra Kusuma
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved