Malang Raya

Pemkab Malang Targetkan Penanganan Stunting

Pemkab Malang fokus menekan angka penderita stunting sampai 10 persen. Saat ini persentase stunting di Kabupaten Malang masih pada skala 20 persen.

Penulis: Mohammad Erwin | Editor: Zainuddin

SURYAMALANG.COM, KEPANJEN – Pemkab Malang fokus menekan angka penderita stunting sampai 10 persen.

Saat ini persentase stunting di Kabupaten Malang masih pada skala 20 persen.

Sesuai data di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang, jumlah penderita stunting sampai akhir tahun 2018 lalu mencapai 25.587 bayi.

Angka tersebut diambil dari 140.637 bayi yang menjadi sample atau 18,19 persen dari seluruh bayi yang ada di Kabupaten Malang.

Kepala Bappeda Kabupaten Malang, Tomie Herawanto menjelaskan penanganan terhadap stunting termasuk PR bagi Pemkab Malang.

Maka dari itu polemik tersebut harus segera ditangani ikeh pemerintah.

“Dalam kemiskinan juga sama, saat berada pada kategori miskin jangankan gizi, mereka bisa makan sehari-harinya saja sudah bagus,” tukas Tomie

Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Malang akan menetapkan 10 desa yang menjadi lokus tangani stunting.

10 desa tersebut adalah Desa Dilem di Kecamatan Kepanjen, Desa Pandanrejo di Kecamatan Wagir, Desa Sumbermanjing Kulon di Kecamatan Pagak, Desa Codo di Kecamatan Wajak, dan Desa Pandanrejo di Kecamatan Pagak.

Selain itu juga Desa Mentaraman di Kecamatan Donomulyo, Desa Kedungrejo di Kecamatan Pakis, Desa Madiredo di Kecamatan Pujon, Desa Tamanharjo di Kecamatan Singosari, dan Desa Dalisodo di Kecamatan Wagir.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Nasri Abdul Wahid menjelaskan beberapa langkah solutif agar target penurunan stunting bisa terealisasi.

“Bisa kami intervensi sejak 1000 hari pertama kehidupan janin.”

“Jadi asupan nutrisi untuk ibu hamil kami pantau agar anak tersebut tidak sampai memiliki potensi menjadi stunting.”

“Kemudian yang paling dominan disebabkan karena kurangnya konsumsi sumber omega 3, seperti ikan-ikanan dan sumber protein nabati maupun hewani,” terang Nasri.

Nasri menerangkan, kesadaran masyarakat dalam konsumsi makananan bergizi harus lebih ditingkatkan.

“Sekarang sedang marak jajanan-jajanan yang digandrungi, tapi sebenarnya kandungan gizinya sangat kurang.”

“Kami khawatir ketika PUS (pasangan usia subur) terlalu banyak mengkonsumsi makanan ini maka potensi keturunannya untuk kekurangan gizi juga akan meningkat,” ujar Nasri.

Sumber: SuryaMalang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved