Nasional
Indonesia Butuh 40 Tahun Lunasi Utang ke Jepang untuk Pembangunan MRT, Sindiran Komikus Jadi Viral
Indonesia Butuh 40 Tahun Lunasi Utang ke Jepang untuk Pembangunan MRT, Sindiran Komikus Onan Hiroshi Jadi Viral
SURYAMALANG.COM - Utang Pemerintah Indonesia kepada Jepang untuk pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) akan dibayarkan secara bertahap selama 40 tahun.
Hal ini disampaikan Division Head Corporate Secretary PT Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta Muhamad Kamaluddin.
Tenor pelunasan utang selama 40 tahun dengan masa tenggang atau grace period selama 10 tahun.
Itu artinya, Pemerintah Indonesia baru mulai mencicil pinjaman 10 tahun setelah pinjaman itu ditandatangani.
• Lihatlah Gaya Wali Kota Surabaya Bu Risma Pegang Sapu Jelang Final Persebaya Vs Arema FC di GBT
• Janda 2 Anak Manjakan Brondongnya Hingga ke Hotel, Endingnya Tragis, Pelaku Tumpahkan Air di Leher
• Gadis ABG dari Gresik Datang ke Sidoarjo untuk Disetubuhi 4 Pria, Kisah Berakhir Tragis di Mojokerto
"Sudah masuk dalam cicilan kan untuk 40 tahun pembayarannya dan sebetulnya sekarang belum masuk dalam pembayaran, masih ada grace period selama 10 tahun, baru nanti tahun ke 10 akan mulai pembayaran," kata Kamaluddin, Senin (8/3/2019).
Perjanjian utang itu sudah sesuai dengan kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dan Jepang, khususnya Japan Internasional Cooperation Agency (JICA).
"Tidak ada yang namanya keterlambatan pembayaran oleh pemerintah dan MRT Jakarta," kata dia.
Biaya pembangunan MRT Direktur Keuangan PT MRT Jakarta Tuhiyat menjelaskan awalnya pinjaman yang diajukan pemerintah ke JICA untuk Fase I sebesar 123,36 miliar yen atau Rp 14,2 triliun.
Namun dalam prosesnya, terdapat revisi desain guna menambah kemampuan daya tahan gempa, yaitu dari magnitudo 7 menjadi 9.
"Itu (penambahan biaya) yang dinamakan price adjusment dari variatif order karena kontraknya sifatnya design and build. Begitu sambil desain, sambil bangun, di lapangan ada regulasi baru," kata Tuhiyat.
Hal itulah yang akhirnya menyebabkan biaya pembangunan Fase I sepanjang 16 kilometer mencapai Rp 16 triliun.
Untuk Fase I, pemerintah Indonesia meminjam 217 miliar yen atau setara Rp 25 triliun.
Di fase II PT MRT Jakarta akan membangun receiving sub station atau gardu induk di kawasan Monas, Jakarta Pusat.
Kendati demikian, biaya yang sebenarnya dibutuhkan untuk pembangunannya sekitar Rp 22,5 triliun.
"Kenapa Rp 25 triliun, karena yang Rp 2,5 triliun ini untuk membiayai kekurangan Fase 1," ujar dia.