Kabar Jombang

Rieke Diah Pitaloka Ziarah ke Makam Gus Dur, Mengenang Kebersamaannya Hampir Tiap Jumat

"Dan saya kira itu inti sari filsafat hukum. Orientasi hukum bukan pada sanksi, tapi tanggungjawab. Gus Dur mengajarkan itu kepada saya

Rieke Diah Pitaloka Ziarah ke Makam Gus Dur, Mengenang Kebersamaannya Hampir Tiap Jumat
Sutono
Politikus PDI Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka, bersimpuh di pusara mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), di Kompleks Ponpes Tebuireng, Jombang, Kamis (2/5/2019). 

SURYAMALANG.COM, JOMBANG - PDI Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka, bersimpuh di pusara mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), di Kompleks Ponpes Tebuireng, Jombang, Kamis (2/5/2019).

Perempuan yang melejit sebagai pemeran Oneng dalam sinetron bersambung 'Bajaj Bajuri' ini membalut tubuhnya dengan baju panjang putih. Demikian juga kerudung warna putih juga bertengger di kepalanya.

Rieke terlihat komat-kamit membaca doa, dengan ,ata terpejam. Bahkan terlihat butiran air matanya mengalir di kedua pipinya, saat bersimpuh itu.

Di makam tersebut, Rieke ditemani sejumlah aktivis buruh, yang semuanya bersimpuh. Mengirim doa untuk sang guru bangsa. Suasana khidmat pun menyeruak di areal keluarga besar pesantren Tebuireng Jombang itu.

Usai berdoa Rieke dan rombongan meninggalkan makam. Saat keluar dari area makam itulah, terlihat menyeka air matanya dengan tisu putih. Bagi Rieke, Gus Dur sangat istimewa. Seorang sahabat, guru, orang tua.

"Gus Dur orang yang pertama kali membawa saya ke kancah politik. Gus Dur yang mengajarkan saya politik kemanusiaan. Di dalam politik, itu landasannya. Tujuan kita menegakkan keadilan dan kemanusiaan," ujar Rieke saat diwawancara awak media.

Sebelum berziarah ke makam Gus Dur, Rieke menjadi narasumber 'Seminar Nasional tentang RUU PKS (Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual)' di Aula KH Yusuf Hasyim Ponpes Tebuireng.

Di forum tersebut Rieke juga sempat merekam ulang perjalanan politiknya. Lagi-lagi, semua itu tidak lepas dari peran Gus Dur.

Rieke berkisah, dirinya dan Gus Dur berteman cukup lama. Saat Gus Dur masih hidup, hampir setiap Jumat, Rieke, Franky Sahilatua, Ki Slamet Gundono, serta seorang anak indigo, Albert, selalu berkumpul di kantor PBNU.

"Setelah salat Jumat kita selalu kumpul untuk diskusi. Saya juga pernah menemani Gus Dur saat cuci darah. Dalam ruangan itu hanya ada saya, Prof Mahfud MD, serta Gus Dur sendiri. Pak Mahfud pasti masih ingat," cerita Rieke.

Rieke melanjutkan, semenjak Gus Dur wafat, dirinya sebenarnya tidak pernah mau melihat makam mantan Ketua Umum PBNU tersebut. Rieke juga tidak hadir saat Gus Dur dikebumikan.

"Karena saya selalu ingin merasakan Gus Dur masih hidup. Gus Dur guru saya, sahabat saya, orang tua saya," kata Rieke, dengan suara mendadak kian lirih.

Rieke mengaku menceritakan sosok Gus Dur, karena Gus Dur pula yang mengajarkan kepada Rieke fungsi hukum. Hukum itu yang pertama adalah mengorganisasi tanggungjawab. Bukan menakut-nakuti masyarakat.

"Dan saya kira itu inti sari filsafat hukum. Orientasi hukum bukan pada sanksi, tapi tanggungjawab. Gus Dur mengajarkan itu kepada saya," ujar tandas Rieke, anggota DPR RI yang Pileg kali ini diprediksi melanggang kembali ke Senayan.

Penulis: Sutono
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved