Malang Raya

Gandeng Universitas Ciputra, Desa Wisata Peniwen di Malang Berharap Makin Terkenal

Mahasiswa Hotel and Tourism Bussiness menyerahkan tiga unit sepeda sebagai simbol usaha pengembangan wisata di Desa Peniwen Kecamatan Kromengan

Gandeng Universitas Ciputra, Desa Wisata Peniwen di Malang Berharap Makin Terkenal
Erwin
Mahasiswa dan mahasiswi jurusan Hotel and Tourism Bussiness menyerahkan tiga unit sepeda sebagai simbol usaha pengembangan wisata di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Senin (20/5/2019) malam. 

SURYAMALANG.COM, KROMENGAN - Kelompok Wisata Budaya Desa Peniwen (WBDP) Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang mendapat pembinaan dari Lembaga Penilitian dan Pengabdian Masyarakat LPPM Universitas Ciputra Surabaya untuk mengembangkan potensi wisata budaya.

Secara simbolis, mahasiswa dan mahasiswi jurusan Hotel and Tourism Bussiness menyerahkan tiga unit sepeda sebagai simbol usaha pengembangan wisata di Desa Peniwen Kecamatan Kromengan, Senin (20/5/2019) malam.

"Selama ini Universitas Ciputra memberikan pelatihan dan pendampingan dalam mengembangkan Desa Peniwen dari segi wisata budaya," terang Agoes Tinus Lis Indrianto, dosen pengampu program Desa Peniwen, program studi Hospitality and Tourism Bussiness Universitas Ciputra.

Sejak setahun terakhir, Agoes menjelaskan pihaknya sudah beberapa kali mengirim mahasiswa untuk mengembangkan potensi di Desa Peniwen. Harapannya, pendampingan yang diberikan bisa menjadikan generasi muda desa setempat berminat mengembangkan pariwisata di desanya.

Tak hanya itu, LPPM Universitas Ciputra memiliki program jangka panjang untuk mengembangkan potensi pariwisata di Kecamatan Kromengan. Pendampingan yang dilakukan kali ini merupakan bagian dari penerapan mata kuliah Advance Hospitality Innovation. Agar Desa Peniwen semakin dikenal, pihaknya juga menggandeng pengusaha travel yang ada di Kabupaten Malang.

"Pendampingan kami bersifat holistik kami membuat warga sadar atas potensi mereka. Selama ini belum terekspose dengan baik seperti alam tradisi budaya yang ada di sini. Maka dari itu kami ingin kembangkan," beber Agoes.

Di sisi lain, Jennifer Charity Chan mahasiswi semester 4, program studi Hospitality and Tourism Bussines Universitas Ciputra mengungkapkan, ia bersama 13 rekannya membuat beberapa terobosan untuk mengembangkan pariwisata di Desa Peniwen. Menurutnya, pemanfaatan media sosial sebagai saran potensi bisa dijadikan solusi perkenalkan wisata desa. Harapannya teori yang selama ini diperoleh di perkuliahan, bisa diterapkan dengan baik di masyarakat.

"Kami kenalkan bentuk promosi lewat media sosial. Kemudian bikin spot selfie, dan sudah survey ke tempat mana aja yang bisa digunakan. Kami juga memberi sepeda agar mempermudah pengunjung ke tempat-tempat yang foto bagus," terang mahasiswi asal Lombok itu.

Sementara itu, Didik Baskoro selaku ketua WBDP (Wisata Budaya Desa Peniwen) menerangkan terdapat kegiatan khas di Desa Peniwen yakni, Babad Peniwen. Kegiatan itu merupakan sajian rutin pasca Natal dan menjelang tahun baru. Bersama LPPM Universitas Ciputra ia berharap Babad Peniwen bisa semakin dikenal dan menjadi agenda tahunan para wisatawan. Wisata religi GKJW Peniwen juga menjadi branding wisata yang hendak dikembangkan.

"Kami di sini sebagai binaan dari LPPM Universitas Ciputra, ada masukan untuk diagendakan secara rutin tiap tahun soal Babad Peniwen," terangnya.

Konsep acaranya terbilang unik, pengunjung bisa merasakan hidup layaknya warga desa setempat selama beberapa hari. Pengunjung akan merasakan sensasi bertani maupun membajak sawah. Menariknya ada juga aktifitas gepuk bantal yang mengundang decak tawa.

"Babad Peniwen kami tampilkan suasana khas pedesaan bagi para pengunjung. Tamu-tamu dari luar kota ingin merasakan kehidupan asli di desa. Tentunya, pengunjung sangat senang," ujar Didik.

Didik menggambarkan, suasana Babad Peniwen dipenuhi dengan canda tawa. Para pengunjung bisa bermain main di sawah dan memainkan berbagai permainan tradisional. Diantaranya, gasing dan engklek.

Yekti Andareni selaku sekretaris WBDP menjelaskan, Babad Peniwen rencananya akan dijadikan kegiatan tahunan. para tamu bisa tinggal di rumah-rumah penduduk yang pada saat Babad Peniwen jadi homestay dadakan. Harganya pun terjangkau mulai dari Rp 75 ribu. Ia berharap Babad Peniwen dapat dikenal lagi oleh masyarakat, sehingga jumlah kunjungan ke Peniwen semakin banyak.

"Ini baru pertama kali kami selenggarakan. Rencana kedepan tiap tahun bisa dilakukan. Tamu yg datang dari berbagai daerah. Ada dari Ciputra Surabaya, GKI Pregolan, GKI Darmo. Ada juga dari Kalimantan. Warga desa dan sekitarnya juga ada," ungkap wanita yang akrab disapa Reni itu. 

Penulis: Mohammad Erwin
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved