Ramadan 2019

Apa Saja Hukum Memperingati Hingga Amalan Saat Malam Nuzulul Quran? Yuk Tanya Ustaz

Apa Saja Hukum Memperingati Hingga Amalan Saat Malam Nuzulul Quran? Yuk Tanya Ustaz

Penulis: Frida Anjani | Editor: eko darmoko
aboutislam.net
Ilustrasi amalan ibadah saat malam Nuzulul Quran. 

SURYAMALANG.COM – Malam Nuzulul Quran diperingati setiapn tanggal 17 Ramadan yang mana tahun ini jatuh pada hari Rabu 22 Mei 2019.

Cuma tinggal satu hari lagi, malam Nuzulul Quran merupakan malam penanda peristiwa turunnya Al Quran untuk pertama kalinya kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam memperingati malam turunnya wahyu allah ini, bagaimana hukum untuk memperingati hingga amalan-amalan yang direkomendasikan untuk dikerjakan saat malam Nuzulul Quran?

Lalu, sebenarnya apa pengertian dari Nuzulul Quran?

Berikut penjelasan Pak Ustaz Tsalis Muttaqin, Lc., M.S.I, Ketua Prodi Ilmu Al Quran dan Tafsir IAIN Surakarta

Tsalis Muttaqin, Lc., M.S.I, Ketua Prodi Ilmu Al Quran dan Tafsir IAIN Surakarta
Tsalis Muttaqin, Lc., M.S.I, Ketua Prodi Ilmu Al Quran dan Tafsir IAIN Surakarta (Tribunnews.com)

Kalau kita bicara tentang Nuzulul Quran, ini memang ada versi yg berbeda antara peringatan Nuzulul Quran yang ada di Indonesia denagn peringatan Nuzulul Quran yang ada negara lain, Mesir misalnya.

Di Mesir, peringatan Nuzulul Quran terjadi di tanggal 27 Ramadan, sementara di Indonesia, peringatannya adalah tanggal 17 Ramadan.

Ini karena memang Al Quran itu turun memang tidak hanya sekali, tapi dua kali.

Jadi Al Quran, yang kalamullah yang ada di lauhul mahfudz sana, di atas yang kita tidak ketahui, itu diturunkan Al Quran ke langit dunia, yang dinamakan baitul izzah.

Malam inilah yang dinamakan malam Kalamullah.

Dan ini hanya sekali, hanya pada malam itu saja.

Ini yang disebut oleh Allah SWT sebagai:  (Qs. Al Qadr ayat 1-3)

اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰهُ فِىۡ لَيۡلَةِ الۡقَدۡرِ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam qadar."

وَمَاۤ اَدۡرٰٮكَ مَا لَيۡلَةُ الۡقَدۡرِؕ

"Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?"

لَيۡلَةُ الۡقَدۡرِ  ۙ خَيۡرٌ مِّنۡ اَلۡفِ شَهۡرٍؕ

"Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan."

Ini Nuzulul Quran turun yang pertama.

Dan Lailatul Qadar pasti di bulan Ramadan, karena ayat yang lain menyebutkan:

 ۚ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)." (Qs. Al-Baqarah 185)

Bulan Ramadan adalah bulan yang diturunkan di malam itu Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia.

Ini malam Lailatul Qadar.

Malam Lailatul Qadar ini malam yang dirahasiakan oleh Allah.

Apakah dia ada di tanggal berapa, itu merupakan rahasia Allah.

Cuma ayat ini menunjukkan bahwa malam itu adalah malam Lailatul Qadar.

Dan ada petunjuk dari ulama-ulama, mengatakan bahwa rasulullah ketika tanggal 20 Ramadan ke atas Rasulullah i'tikaf-nya melebihi i'tikaf sebelumnya.

Itu sebagai pertanda bahwa malam itu adalah malam-malam Lailatul Qadar.

Ada yang mengatakan, ulama-ulama mengatakan, tanggal-tanggal ganjil, malam ganjil, mulai 21, 23, 25, 27, 29 itu malam Lailatul Qadar.

Ada lagi yang juga mengatakan, kalau kita ingin mendapatkan malam Lailatul Qadar, maka pada malam pertama Ramadan sampai akhir, kalau kita bersungguh-sungguh, pasti kita mendapatkan malam Lailatul Qadar.

Sementara di Mesir, merujuk pendapat imam abu hanifah, hanafi yang berdasarkan pada sebuah hadits yang menunjukkan bahwa malam Lailatul Qadar itu terjadi pada malam 27 Ramadan.

Berbeda dengan di Indonesia, yang diperingati di Indonesia bukan malam Lailatul Qadar yang itu, tapi malam turunnya Al Quran mulai dari baitul izzah, jadi Quran turun dua kali, dari lauhul mahfudz ke baitul izzah ini yang dirahasiakan Allah, dari baitul izzah ini turun berangsur-angsur di bawa oleh malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW ini permulaannya pada malam 17 Ramadan, yaitu dimulai dari Iqra.

Jadi ini bukan Lailatul Qadar.

Ini adalah malam turun Al Quran, diberikan dari baitul izzah dibawa malaikat Jibril, disampaikan kepada Rasulullah SAW, ini terjadi malam 17 Ramadan, dan ini yang terjadi di Indonesia.

Jadi perbedaan-perbedaan ini karena sudut pandangnya berbeda.

Yang di Indonesia yang diperingati adalah malam ketika pertama Rasulullah SAW mendapatkan wahyu, sementara di negara-negara lain seperti di Mesir, amnbilnya malam 27 Ramadan karena merujuk pada sebuah hadits yang menyebutkan malam Lailatul Qadar itu adalah malam turunnya Al Quran terjadi pada malam 27 Ramadan.

Berikut video selengkapnya:

Dilansir dari sebuah ceramah yang diunggah saluran Youtube Bujang Hijrah pada 20 Agustus 2017, Ustadz Abdul Somad mendapatkan pertanyaan dari jamaah tentang hukum merayakan malam Nuzulul Quran.

Pertanyaan tersebut berkaitan dengan kekhawatiran apakah nantinya peringatan tersebut dikategorikan sebagai bid'ah.

Menurut definisi yang dikemukakan oleh Al Imam Asy-Syathibi mengatakan bid’ah adalah suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil) yang menyerupai syariat (ajaran islam), yang dimaksudkan untuk melakukan hal yang berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Pertama-tama, Ustadz Abdul Somad pun menjelaskan tentang apa yang biasanya diperingati sebagai Hari-Hari Besar Umat Islam.

"Tahun baru hijriyah, Maulid Nabi, Nuzulul Quran, Isra Mi'raj isinya semuanya ngaji..ngaji...ngaji. Maka niatnya adalah ngaji," terang Ustadz Abdul Somad.

Selanjutnya ia mencontohkan kondisi yang sama dengan cerita tentang Syeikh Ibnu Husaimin yang mendapat pertanyaan serupa.

"Syeikh itu mendapat pertanyaan tentang hukum seorang khatib yang berkhutbah berdasarkan momen, kebetulan bulan muharram, dia cerita hijrah, kemudian bulan Rabiul Awwal, dia cerita hari lahir Nabi. Kebetulan bulan Rajab, dia cerita tentang Isra Mi'raj. apa hukumnya," papar Ustadz Abdul Somad.

"Syiekh pun menjawab jika sang khatib yang bijak sana dan faqih," lanjutnya.

Terakhir, ia berpesan agar tak membuat heboh tentang hukum peringatan hari-hari besar umat islam tersebut.

"Pokoknya tetap buat peringatan yang isinya pengajian. Tetap isi Al Qur'an, bagaimana sikap kita terhadapnya,"tutup UAS.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved