Kabar Jember

Pegiat Perempuan, Dosen, dan Mahasiswa Rumuskan Penanganan Kekerasan Seksual di Kampus

beberapa waktu terakhir terkuak sejumlah kasus kekerasan seksual di kampus di Indonesia, seperti di Unej, UIN Malang, Undip, juga UGM.

Pegiat Perempuan, Dosen, dan Mahasiswa Rumuskan Penanganan Kekerasan Seksual di Kampus
sri wahyunik
Pegiat perempuan, sosial, dosen dan mahasiswa di Jember membuat sejumlah rekomendasi dan rencana tindak lanjut penanganan jika terjadi tindak kekerasan seksual di kampus. Rekomendasi dan rencana tindak lanjut penanganan ini muncul melalui workshop dan diskusi terarah dan terbatas (FGD/Focus Group Discussion) bertema 'Mewujudkan Unej sebagai Kampus yang Modern, Aman, dan Ramah Gender', Rabu (22/5/2019). 

SURYAMALANG.COM, JEMBER - Pegiat perempuan, sosial, dosen dan mahasiswa di Jember membuat sejumlah rekomendasi dan rencana tindak lanjut penanganan jika terjadi tindak kekerasan seksual di kampus.

Rekomendasi dan rencana tindak lanjut penanganan ini muncul melalui workshop dan diskusi terarah dan terbatas (FGD/Focus Group Discussion) bertema 'Mewujudkan Unej sebagai Kampus yang Modern, Aman, dan Ramah Gender', Rabu (22/5/2019).

Workshop dan FGD itu digelar oleh The Centre for Humas Rights, Multiculturalism and Migration (CHRM2) bersama Biro Pelayanan Bantuan Hukum (BPBH) Fakultas Hukum Universitas Jember, Kelompok Riset (KeRis) Perlindungan Perempuan dan Anak Fakultas Hukum Universitas Jember, Serikat Pengajar HAM (SEPAHAM) Indonesia, LBH Jenthera, dan Aliansi Mahasiswa Peduli Penghapusan Kekerasan Seksual.

Kegiatan tersebut juga mengundang perwakilan pimpinan Universitas Jember (Unej) dan pimpinan fakultas di Unej, mahasiswa, BEM serta perwakilan perguruan tinggi di Jember antara lain IAIN, IKIP PGRI, UNMUH, UIJ, STIA Pembangunan, STIE Mandala, AKBID Soebandi, AKBID Jember dan Politeknik Negeri Jember.

Salah satu pemicu digelarnya workshop dan FGD itu adalah kasus dugaan tindakan pelecehan seksual oleh seorang dosen di kampus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unej. Kasus yang terungkap tahun lalu, serta prosesnya bergulir hingga saat ini seakan membuka fenomena gunung es kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus.

"Kasus yang terakhir terungkap kemarin menjadi 'trigger' digelarnya workshop dan FGD ini. Harapannya bagaimana mewujudkan Unej sebagai kampus yang modern, aman, dan ramah gender," ujar peneliti CHRM2 Dr Erwin Nur Rif'ah.

FGD itu membuat rekomendasi mekanisme pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksul di kampus. Hasil dari FGD itu, kata Erwin, disampaikan kepada rektor Unej.

"Workshop ini juga diharapkan mampu membangun 'public-awareness' terkait pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual," tegasnya.

FGD penanganan kekerasan seksual di kampus itu terbagi dalam tiga kelompok yakni pencegahan, pendampingan korban, dan penindakan. Masing-masing kelompok menyampaikan rekomendasi mereka di akhir FGD. Kelompok pencegahan, misalnya, memberikan rekomendasi taktis dan strategis, seperti ditambahnya lampu penerangan di kampus, kamera pemantau, juga sosialisasi ke mahasiswa tentang kesadaran akan kekerasan seksual dan pencegahannya. Dari sisi pencegahan juga bisa dilakukan dengan adanya mekanisme pengaduan, serta regulasi tentang kode etik dosen.

Sedangkan dari kelompok pendampingan korban, rekomendasi yang muncul antara lain pentingnya pendampingan korban baik oleh kelompok sebaya, juga mekanisme pendampingan secara profesional.

Sementara dari sisi penindakan, muncul rekomendasi bagaimana mekanisme pengaduan korban, regulasi tertulis untuk mereka yang terlibat dalam tindak kekerasan seksual, sampai proses penindakan hukum.

"Dari sisi penindakan juga harapannya ada regulasi yang bersifat tegas untuk pelaku, tidak hanya sanksi bersifat akademis namun juga hukum tegas. Tujuan dari semua rekomendasi ini bagaimana kasus-kasus kekerasan seksual di kampus ini bisa ditangani, dan harapannya tidak lagi terjadi kejadian serupa," imbuh Erwin.

FGD dan workshop di Unej itu, lanjut Erwin, diharapkan membuka mata kampus-kampus lain di Jember juga Indonesia bahwa kasus kekerasan seksual di kampus harus ditangani secara serius. Erwin mengingatkan kasus kekerasan seksual tidak hanya terjadi di Unej, namun juga terjadi di lembaga kampus lain. Karenanya, perguruan tinggi harus memiliki mekanisme dan prosedur tegas serta transparan dalam menangani kasus kekerasan seksual.

Seperti beberapa waktu terakhir terkuak sejumlah kasus kekerasan seksual di kampus di Indonesia, seperti di Unej, UIN Malang, Undip, juga UGM.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved