Kabar Surabaya
Perempuan Menguasai 22 dari 120 Kursi DPRD Jatim, 11 Orang dari PKB dan 8 Orang dari PDIP
Perempuan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 11 orang, PDI Perjuangan 8 orang, dan disusul Demokrat, NasDem, dan PPP yang masing-masing satu kursi.
Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: yuli
SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Sebanyak 22 perempuan lolos ke DPRD Jatim dari total 120 kursi berdasarkan hasil Pemilihan Legislatif 2019.
Rinciannya, perempuan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 11 orang, PDI Perjuangan 8 orang, dan disusul Demokrat, NasDem, dan PPP yang masing-masing menyumbang satu kursi.
Women and Youth Development Institute of Indonesia (WYDII) bersama Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) bertekad mengawal para perempuan yang lolos ke parlemen di pemilu 2019. Berdasarkan catatan mereka, presentase yang lolos ke parlemen meningkat.
"Kami memprediksi presentase caleg perempuan yang lolos baik untuk DPRD Jatim maupun DPR RI meningkat tiga persen. Ini merupakan catatan positif," kata Siti Nurjanah, Direktur Wydii kepada SURYAMALANG.COM ketika dikonfirmasi di Surabaya, Kamis (30/5/2019).
Sebagai organisasi pemberdayaan perempuan, Siti menceritakan bahwa selama 10 tahun terakhir pihaknya banyak melakukan peningkatan kapabilitas perempuan di bidang politik. Mulai dari membuat program, cara menggaet massa, hingga mengenalkan kegiatan di parlemen.
Hasilnya, banyak anggota Wydii maupun KPI yang sukses meraih kursi, baik di tingkat DPRD Kabupaten/Kota, DPRD provinsi, maupun untuk DPR RI. "Kami sangat bahagia, lebih dari 15 persen teman-teman perempuan yang telah belajar bersama Wydii dan KPI sukses meraih kursi," katanya.
Menariknya, sebagai organisasi non-politis, kedua organ ini memberdayakan perempuan di lintas partai. Hal ini terlihat dari beberapa perempuan yang lolos memang berada di beberapa partai.
Beberapa di antara anggota yang terpilih di antaranya adalah Komsatun (Golkar), Hari Putri Lestari (Perjuangan), hingga Hikmah Bafaqih (PKB). "Sebagai organisasi non politik, kami tak memiliki afiliasi dengan partai tertentu," katanya.
Meskipun demikian, pihaknya mengaku tidak sedikit anggota kedua organisasi ini yang gagal lolos ke parlemen. Oleh karenanya, sebagai bentuk evaluasi dan rencana tindak lanjut, kedua organisasi ini pun membuat diskusi pada Kamis (30/5/2019) di Surabaya.
"Kami tegaskan tak ada sekat antara caleg yang jadi, maupun yang tak jadi. Semua di sini saudara, meskipun berbeda partai. Kami disini banyak bertukar pikiran sebagai bentuk evaluasi pencalegan lalu," katanya.
Selama diskusi, para 'mantan' caleg tersebut saling bertukar pikiran dan pengalaman. Baik dari pola kampanye, perekrutan tim sukses, cara mengenalkan program ke masyarakat, hingga buka-bukaan terkait total anggaran yang dikeluarkan.
Para anggota saling menguatkan. Diharapkan, bagi caleg yang gagal untuk tidak menjadi apolitik. "Ini sebagai bentuk evaluasi dan tindak lanjut ke arah depan," katanya.
Selesai mengantarkan anggotanya, WYDII berkomitmen untuk mengawal agenda prioritas para caleg. "Tidak sedikit anggota DPR perempuan justru tidak memahami prinsip pembangunan sensitif gender, daya tawar rendah karena kapasitas politik yang rendah, hingga larut dalam iklim politik maskulin," katanya.
Untuk itu, forum ini akan bersama-sama mengawasi kinerja anggota DPR perempuan. Termasuk, memberikan dukungan kepada para perempuan yang baru terpilih untuk terus bermitra. "Khususnya, meningkatkan taraf hidup perempuan dan anak Indonesia, khususnya yang ada di Jatim," katanya.
Di sisi lain, KPI Jatim sebelumnya juga memberikan pendidikan politik kepada masyarakat pemilih. "Kami juga melakukan pendidikan pemilih melalui program 'Mider Bareng'. Khususnya, kepada para perempuan untuk memberikan suaranya," kata Wiwik Afifah, Ketua Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jatim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/caleg-perempuan-wydii-bersama-koalisi-perempuan-indonesia-kpi.jpg)