Kabar Jakarta

Penguatan Nilai Tukar Rupiah Saat Ini Diprediksi Hanya Sementara

Rupiah memiliki kecenderungan untuk melemah terhadap USD, AUD dan SGD hingga akhir tahun, lantaran banyaknya tantangan di sisa 2019.

Penguatan Nilai Tukar Rupiah Saat Ini Diprediksi Hanya Sementara
Tribunnews.com
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS stabil 

SURYAMALANG.COM, JAKARTA - Penguatan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar AS yang terjadi saat ini, diprediksi hanya sementara. Hal ini juga berlaku terhadap mata uang negara lain yang kerap ditransaksikan seperti dollar Australia (AUD) dan dollar Singapura (SGD).

Mengutip Bloomberg Senin (10/6), nilai tukar rupiah ditutup menguat sebanyak 0,13 persen di level Rp 14.250 per dollar AS atau menguat 0,97 persen sepanjang tahun ini.

Selanjutnya, ada juga pasangan AUD/IDR yang menguat 0,23 persen ke level Rp 9.925. Bahkan secara year to date atau sepanjang 2019 sudah menguat sebanyak 2,36 persen. Begitu juga untuk pasangan SGD/IDR yang ditutup menguat tipis pada perdagangan Senin (10/6) yakni 0,05 persen di level Rp 10.422 atau sudah menguat 1,26 persen sepanjang 2019.

Analis Monex Investindo Futures, Faisyal mengungkapkan sebaliknya. Rupiah memiliki kecenderungan untuk melemah terhadap USD, AUD dan SGD hingga akhir tahun, lantaran banyaknya tantangan ataupun sentimen yang perlu dihadapi di sisa 2019.

"Dominannya, rupiah masih akan melemah terhadap tiga mata uang seperti USD, AUD dan SGD. Ini karena, sampai akhir tahun banyak pertimbangan untuk rupiah bisa menguat," kata Faisyal kepada Kontan, Senin (10/6).

Alasannya, untuk USD/IDR kecenderungan masih akan tertekan seiring dengan perkembangan perang dagang antara AS dengan China. Ditambah lagi, akhir Juni Presiden AS Donald Trump rencana akan bertemu dengan Perdana Menteri China Xi Jinping untuk membahas kelanjutan perang dagang.

Hingga akhir tahun, rupiah diperkirakan bakal berada di rentang resistance Rp 14.500 - Rp 15.000 per dollar AS, sedangkan untuk rentang support berada di kisaran Rp 14.000 - Rp 14.300 per dollar AS.

Pertimbangan lainnya yang bakal menghambat penguatan rupiah di akhir 2019 yakni adanya kecenderungan pelambatan ekonomi global dan juga perkembangan harga minyak global. Dari sisi domestik, perkembangan situasi politik dan calon pengisi kabinet kerja pemerintahan yang baru turut menjadi sorotan pasar.

Untuk AUD/IDR, kedua mata uang tersebut dinilai Faisyal, masih sama-sama melemah. Ditambah lagi kondisi ekonomi Australia tidak lebih baik dari Indonesia, diikuti pernyataan Bank Sentral Australia yang cenderung dovish. Menurutnya, meskipun keduanya tertekan, rupiah masih memiliki peluang untuk sedikit menguat terhadap AUD.

Sedangkan untuk SGD/IDR, Faisyal menilai rupiah masih akan cenderung melemah terhadap SGD, lantaran kondisi ekonomi Singapura yang lebih baik. Namun bukan tidak mungkin, jika sinyal Trump untuk melakukan manipulasi mata uang bisa mempengaruhi kurs SGD.

"Pada saat itu terjadi, bukan tidak mungkin rupiah bakal menguat terhadap SGD ibarat ketiban durian runtuh. Namun, jika dilihat secara keseluruhan rupiah masih akan melemah terhadap tiga mata uang tersebut. Kalau saat ini menguat, itu hanya sebatas sentimen S&P," tandasnya.

Sebagaimana diketahui, akhir Mei 2019 S&P menaikkan peringkat kredit utang jangka panjang Indonesia atau sovereign credit rating Indonesia dari BBB- menjadi BBB. Itu artinya, peringkat utang Indonesia dalam outlook atau prospek stabil. Selain itu, peringkat utang jangka pendek juga turut dinaikkan menjadi A-2 dari sebelumnya A-3.

Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved