Kabar Jember

Mahasiswa FTP Universitas Jember Olah Bahan Lokal Jadi Makanan Kekinian

Gelar Produk FTP 2019 menyuguhkan 27 produk makanan, minuman, juga snack hasil karya mahasiswa FTP Unej.

Mahasiswa FTP Universitas Jember Olah Bahan Lokal Jadi Makanan Kekinian
suryamalang.com/Sri Wahyunik
Pumpkin Macaron Mahasiswa di Gelar Produk FTP Universitas Jember 

SURYAMALANG.COM, JEMBER - Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember (Unej) menggelar acara 'Gelar Produk FTP 2019', Selasa (18/6/2019).

Acara yang digelar di double way FTP Unej itu bertemakan 'make the best product with modern technology for better life'. Gelar Produk FTP 2019 menyuguhkan 27 produk makanan, minuman, juga snack hasil karya mahasiswa FTP Unej.

Mahasiswa yang memamerkan produk mereka berasal dari Program Studi Teknologi Hasil Pertanian. "Mahasiswa FTP khususnya Program Studi (Prodi) Teknologi Hasil pertanian (FTP) dituntut untuk bisa membuat produk olahan dari bahan lokal," kata Dosen pengampu mata kuliah pengembangan produk baru FTP Unej, Ahmad Nafi.

Nafi menuturkan, total hari ini ada 27 produk olahan makanan dan minuman yang berbahan baru lokal, seperti labu kuning, kelor, buah naga, juga limbah kulit kopi.

"Beberapa inovasi produk pangan lokal di antaranya pumpkin macaron (macaron yang terbuat dari labu kuning), kelori snack (nori dari kelor dan uwi), bujang (daging analog rebung jamur), ma'pon (marshmallow empon-empon), bontel (abon jamur tiram, ontong, tewel), dan coki (coklat koro kuaci), juga sejumlah produk lain," imbuhnya.

Selain produk di atas ada juga Dobi (camilan blondo ebi), Pie-Na (choco pie buah naga), Benakis (bekatul naga cookies), juga Bagiak Kekinian.

Salah satu kelompok peserta Gelar Produk FTP 2019, Lailatul Rahma dan kawan-kawan menyuguhkan 'Pumpkin Macaron' alias macaron waluh. "Biar namanya kekinian sehingga kami beri nama 'pumpkin macaron'," ujar Laila.

Bahan yang digunakan sesuai namanya pumpkin alias labu kuning (Cucurbita moscahata), atau masyarakat Jawa menyebutnya waluh. Masyarakat Indonesia jamak mengenal labu kuning tersebut. Labu kuning biasa diolah untuk kolak, bahan kue, atau dikukus kemudian dikonsumsi.

"Waluh itu mengandung vitamin dan mineral, sehingga sangat baik untuk dikonsumsi. Selain itu juga mudah ditemukan. Kami mencoba mengolah waluh menjadi makaroni. Agar terkesan kekinian nama produknya kami namai Pumpkin Macaron aslinya sih Macaron Waluh,” ujar Laila.

Menurut Laila, selama ini pemanfaatan waluh untuk makanan masih sangat terbatas pada makanan atau masakan tradisional saja. Di desa misalnya, waluh biasanya hanya dijadikan sebagai sayur atau kolak saja.

“Padahal waluh juga banyak mengandung serat, sehingga jika diinovasi selain dapat jajanan yang enak juga dapat jajanan yang sehat. Mengkonsumsi waluh ini dapat mememuhi kebutuhan vitamin A lebih dari 100 persen dan vitamin C 20 persen,” imbuhnya.

Laila mengaku, ada sedikit kesulitan dalam mengolah waluh menjadi macaron. Kesulitannya ada pada perlakuan bahannya dan pada proses pengovenan terutama dalam penentuan suhu yang sesuai. Namun setelah jadi, rasanya tidak jauh berbeda dengan macaron berbahan tepung almond.

“Untuk rasanya lumayan mirip dengan makaroni pada umumnya. Namun, untuk produk ini lebih terasa rasa kacangnya. Karena pada umumnya kan macaron memang terbuat dari tepung almond, namun kami menginovasikan dengan bahan lokal menggunakan tepung kacang tanah dan tepung kedelai,” pungkas Laila.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved