Kabar Pasuruan

Atasi Kondisi Stunting Anak di Pasuruan, Dinkes Lakukan Sejumlah Langkah Strategis

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pasuruan memiliki cara khusus untuk mengatasi stunting di Kabupaten Pasuruan. Diantaranya dengan intensifikasi gizi

Atasi Kondisi Stunting Anak di Pasuruan, Dinkes Lakukan Sejumlah Langkah Strategis
suryamalang.com/Galih Lintartika
Dinkes Kabupaten Pasuruan saat sosialisasi dan kampanye soal antisipasi dan tekan angka stunting. 

SURYAMALANG.COM, PASURUAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pasuruan memiliki cara khusus untuk mengatasi stunting di Kabupaten Pasuruan. Cara yang terus dilakukan adalah intensifikasi gizi. Angka stunting di Kabupaten Pasuruan lumayan tinggi.

Dari data terakhir, jumlah balita di Kabupaten Pasuruan terhitung dari Agustus 2018 ada 52.802. Sedangkan yang dinyatakan stunting sekitar 16.222 balita, atau sekitar 30,7 persen dari total yang ada. Angka ini di atas angka stunting Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yakni 30,5 persen.

Kepala Dinkes Kabupaten Pasuruan, dr Agung Basuki mengatakan, sebelum menjelaskan detail pola penanganan stunting di Kabupaten Pasuruan, ia ingin menjelaskan sedikit soal pengertian stunting.

Dikatakan dia, stunting adalah masalah kurang gizi kronis seseorang yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang lama sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan. Itu bisa terlihat dari tinggi badan yang lebih pendek dari standarnya usianya.

“Stunting ini dialami balita. Penyebabnya bermacam macam. Bisa jadi multidimensi, misalnya salah asuh orang tua terhadap balita, salah pola makan dan sejenisnya. Tapi, utamanya kurang gizi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) yang dimulai waktu hamil 9 bulan sampai dengan bayi 2 tahun,” katanya.

Ia menjelaskan, pihaknya sudah menyiapkan konsep dan kerangka untuk menekan angka stunting di Kabupaten Pasuruan. Diantaranya dengan akan melakukan sejumlah intervensi. Diantaranya adalah peningkatan gizi, dengan sosialisasi ke ibu hamil untuk memberikan ASI eksklusif.

Selain itu, ada Pemberian Makanan Tambahan (PMT) seperti susu, biskuit dan lainnya. Ada juga suplai vitamin dan lainnya untuk memperbaiki gizi balita tersebut. Selain itu, imunisasi rutin dan snaitasi bersih. Dengan pendekatan seperti itu, diharapkan balita kembali normal pertumbuhannya.

“Tahun 2018 kemarin, kami siapkan PMT balita kurus ada 6.852 karton atau setara 23.024 kilogram, dan PMT ibu hamil KEK ada 9.573 karton atau setara dengan 16.082 kilogram. Jadi, yang dinyatakan stunting, kami akan lakukan intervensi agar segera kembali normal,” jelasnya.

Menurut Agung, stunting ini sangat berbahaya jika dibiarkan. Kata dia, stunting bukan hanya mengakibatkan pertumbuhan yang berkurang, tapi juga bisa mengakibatkan kecerdasan anak yang berkurang.

“Maka dari itu, Dinkes dibawah arahan Bupati Pasuruan sedang serius dan fokus mengatasi stunting. Ada support penuh dari Pemkab Pasuruan. Melalui APBD, tahun ini ada anggaran Rp 626 juta untuk atasi stunting. Anggaran itu naik dibandingkan anggaran tahun lalu yang sebesar Rp 600 juta. Kami berharap, agar angka stunting bisa kami tekan,” ungkapnya.

Akan tetapi, ia menyadari upaya menekan angka stunting di Kabupaten Pasuruan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Tapi, harus ada keterlibatan masyarakat semuanya. “Harus ada kesadaran masyarakat untuk ikut bersinergi dengan Dinkes dan Pemkab Pasuruan dalam menekan angka stunting,” pungkas dia.

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved