Kabar Surabaya

Riset PW IPNU Jatim, 73,4 Persen Pelajar di Jawa Timur Tidak Setuju System Zonasi

Sampai saat ini pemerintah belum pernah melibatkan pelajar sebagai subjek perihal keputusan terkait sistem zonasi tersebut.

Riset PW IPNU Jatim, 73,4 Persen Pelajar di Jawa Timur Tidak Setuju System Zonasi
Ist
Hasil Riset PW IPNU Jatim Terkait Sistem Zonasi

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Student Research Center (SRC) Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timur melakukan riset terkait tanggapan pelajar mengenai Peraturan Kemendikbud Nomor 51 tahun 2018 tentang acuan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2019 khususnya tentang Sistem Zonasi.

Ketua SRC, Ahmad Ainun Najib mengatakan, pihaknya mengambil tema penerapan sistem zonasi ini karena banyak mengundang tanggapan baik pro maupun kontra di masyarakat.

"Senin, (15/7/2019) adalah hari pertama pelajar masuk sekolah menjadi momentum untuk mengevaluasi dan melakukan penyempurnaan kebijakan sistem zonasi. Hasil riset kami bisa menjadi salah satu referensinya," kata Najib, Minggu (14/7/2019).

Ia menjelaskan objek penelitian ini adalah pelajar yang sedang mendaftar ke SMA tahun 2019, Survei PPDB sistem zonasi dilakukan pada tanggal 24-29 Juni 2019, dengan responden dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

"Tercatat 56 persen responden perempuan dan 44 persen responden laki-laki yang mengisi kolom survei . Survei ini mengambil responden pelajar lulusan SMP tahun 2019, dan sedang menadaftarkan diri ke SMA. Hal ini disesuaikan dengan penerapan PPDB sistem zonasi. Dari 398 responden 73,4 persen menjawab tidak setuju terhadap PPDB sistem zonasi , kemudian 26,6 persen menjawab setuju zonasi," ucap Najib.

Alasan penolakan PPDB sistem zonasi, sambungnya, adalah tidak bisa masuk ke sekolah yang diharapkan 46,4 persen, fasilitas sekolah belum merata 11,3 persen, kemudian 9,2 persen beralasan Penerapan zonasi ppdb 2019 yang terkesan mendadak, selebihnya setuju dengan alasan Pemerataan pelajar dengan nilai UN tinggi 13,3 persen, Menghapus predikat sekolah favorit 13 persen, dan Jarak sekolah dekat dengan rumah 6,4 persen.

Lebih lanjut, Najib menambahkan, dengan diterapkanya PPDB sistem Zonasi di sekolah negeri, SRC juga melakukan survei ketertarikan pelajar terhadap sekolah swasta.

Hasilnya, 41,3 persen pelajar ingin daftar ke swasta dan 58,7 persen menjawab tidak ingin masuk ke sekolah swasta.

Ketika ditanya alasan tertarik atau tidak tertarik ke sekolah swasta, responden menjawab 36,8 persen beranggapan sistem zonasi mempersempit peluang ke sekolah impian, 30,7  persen tetap ingin sekolah di SMA negeri, 17,1 biaya sekolah swasta lebih mahal, dan 15,4 persen fasilitas dan tata kelola sekolah swasta lebih bagus.

"Hal yang menarik ketika pelajar diberi pertanyaan tentang usulan apabila bertemu Mendikbud. Sebagian besar pelajar meminta untuk menghapus PPDB sistem zonasi karena tidak bisa masuk ke sekolah yang diinginkan," tandasnya.

Ketua PW IPNU Jawa Timur, Choirul Mubtadiin mengatakan, riset itu penting dilakukan karena yang menjadi objek sistem zonasi pada PPDB adalah pelajar.

Sedangkan sampai saat ini pemerintah belum pernah melibatkan pelajar sebagai subjek perihal keputusan terkait sistem zonasi tersebut.

"Survey ini menjadi langkah nyata para pelajar Jawa Timur sebagai generasi yang mempunyai concern terhadap perubahan bangsa di dunia pendidikan," kata Choirul.

Editor: Achmad Amru Muiz
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved