Kota Batu

Pemadaman Api Tak Perlu Hujan Buatan

Awalnya telah diukur sekitar 60 hektare lahan yang terbakar, tetapi hingga sore ini luas lahan meluas hingga 5 hektare.

Penulis: Sany Eka Putri | Editor: Zainuddin
istimewa
Pemadaman kebakaran hutan Gunung Panderman, Kota Batu. 

SURYAMALANG.COM, KOTA BATU - Diperkirakan luas area hutan Gunung Panderman yang terbakar meluas.

Awalnya telah diukur sekitar 60 hektare lahan yang terbakar, tetapi hingga sore ini luas lahan meluas hingga 5 hektare.

Hal itu dikarenakan ada titik-titik area yang terbakar tidak bisa dijangkau oleh tim. Awal kebakaran terjadi di petak 227, diperkirakan meluas sampai ke petak 213.

Selasa pagi, tim gabungan yang terdiri dari tim reaksi cepat (TRC) BPBD Kota Batu bersama Perhutani Malang, Polres Batu, TNI,  Lembaga Masyarakat Daerah Hutan (LMDH), Mahasiswa, berangkat kembali untuk memadamkan api.

Tim dibagi menjadi tiga, tim pertama melakukan pemadaman di Parang Putih, tim kedua di Bon Klerek, dan tim ketiga di Bon Tutup.

Sempat diupayakan untuk menggunakan hujan buatan untuk pemadaman, namun dirasa tidak perlu.

Hal itu dikatakan Wali Kota Batu Dewanto Rumpoko saat meninjau lokasi posko di Jalibar, Desa Oro-oro Ombo.

“Setelah koordinasi ini tadi tidak perlu menggunakan hujan buatan. Karena kami sempat meminta bantuan kepada TNI AU untuk membuat hujan buatan. Kita doakan saja, pemadaman selesai, dan api tidak meluas,” kata Dewanti.

Keberangkatan tim gabungan dari daerah Jalibar, tetapi ada warga yang berangkat dari Posko Pendakian Desa Pesanggrahan.

Tim melakukan pembuatan sekat bakar sepanjang kurang lebih 200 meter dan lebar 3 meter.

Gunanya agar saat memadamkan api area lain tidak ikut terbakar. Kasi Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kota Batu, Achmad Choirur Rochim mengatakan teknik ini untuk mencegah api merambat ke tempat lain.

“Semisal area terbakar sekitar 100 meter, tim membuat sekat bakar dengan jarak panjang 300 meter dan lebar 2,5 meter. Nah sekat ini untuk pembatas api,” kata Rochim.

Tim berangkat sekitar pukul 08.35 WIB dari posko Desa Oro-oro Ombo. Setiap tim dibekali peralatan seperti cangkul, gepyok, arit.

Kebakaran ini diduga terjadi murni karena alam. Karena jika untuk pembukaan lahan, masih terlalu awal.

“Kalau untuk pembukaan lahan, terlalu awal. Biasanya warga melakukan pembukaan lahan sekitar Agustus. Dugaan awal memang murni karena alam,” kata Rochim.

Sementara untuk evaluasi selama proses pemadaman kemarin, tim kesulitan tidak ada jalur.

Sehingga tim menggunakan jalur pendakian yang biasa digunakan pendaki.

Kasi Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kota Batu, Achmad Choirur Rochim mengatakan evaluasinya adalah memetakan jalur.

Tidak adanya pemetaan jalur ini membuat beberapa tim kebingungan.

“Sehingga kami kemarin mengandalkan tim Perhutani sebagai penunjuk jalan,” kata dia.

Bahkan saat tim logistik mengirim makanan, sempat tersesat. Karena jalur yang dilalui tidak ada di peta.

Oleh karena itu, pemetaan jalan setapak ini akan dilakukan setelah proses pemadaman di Hutan Gunung Panderman.

Setelah pemadaman nanti, besoknya tetap dilakukan pemantauan. Tidak hanya pemantauan saja, juga dilakukan teknik bakar kayu di area yang terbakar. Gunanya untuk betul-betul memastikan api padam.

Caranya adalah lahan yang bekas terbakar diuruk pakai tanah, lalu ditimbun. Karena ditakutkan api manyala lagi karena tertiup angin.

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved