Kabar Gresik

Ada 927 Janda Baru di Gresik dalam 6 Bulan Terakhir, Faktor Ekonomi Masih Dominan Picu Perceraian

"KDRT masuk kategori ekonomi, bukan hanya main tangan tetapi lebih ke tidak memberi nafkah sehingga menimbulkan kekerasan batin," ujarnya.

Ada 927 Janda Baru di Gresik dalam 6 Bulan Terakhir, Faktor Ekonomi Masih Dominan Picu Perceraian
creativemarket
ilustrasi 

"KDRT masuk kategori ekonomi, bukan hanya main tangan tetapi lebih ke tidak memberi nafkah sehingga menimbulkan kekerasan batin," ujarnya saat ditemui di kantor PA, Jalan Dr Wahidin Sudiro Husodo No 45, Selasa (23/7/2019).

SURYAMALANG.COM, GRESIK - Angka perceraian di Kabupaten Gresik cukup tinggi. Dalam setengah tahun terakhir, hampir seribu janda baru di Kota Pudak.

Total sejak bulan Januari hingga Juni 2019 atau satu semester pertama sudah angka perceraian mencapai. Faktor penyebab perceraian pasangan ini variatif namun masih didominasi oleh faktor ekonomi.

Angka tersebut mengalami peningkatan dibanding satu semester pertama tahun lalu yakni, 843 pasangan yang berakhir di palu hakim.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Gresik, Emi Rumhastuti membeberkan selain didominasi faktor ekonomi, angka perceraian juga disebabkan oleh perselisihan terus menerus dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

SURYAMALANG.COM | IG: @suryamalangcom
SURYAMALANG.COM | IG: @suryamalangcom (.)

"KDRT masuk kategori ekonomi, bukan hanya main tangan tetapi lebih ke tidak memberi nafkah sehingga menimbulkan kekerasan batin," ujarnya saat ditemui di kantor PA, Jalan Dr Wahidin Sudiro Husodo No 45, Selasa (23/7/2019).

Pada semester pertama tahun 2019, perceraian karena faktor ekonomi mencapai 459 kasus. Kemudian perselisihan terus menerus sebanyak 237 kasus dan KDRT menyumbang 154 kasus.

"Setengah tahun ini tidak ada yang cerai karena poligami," kata Emi.

Pada periode yang sama tahun lalu, faktor ekonomi menduduki peringkat pertama dengan 350 kasus. Disusul perselisihan terus menerus mencapai 332 kasus dan meninggalkan satu pihak 97 kasus.

Kasus perceraian, lanjut Emi, masih didominasi usia produktif rata-rata 22 tahun hingga 39 tahun. Nah, di usia tersebut bisa dikatakan rentan belum matang menjalin mahligai rumah tangga.

"Rata-rata menjalin hubungan rumah tangga hanya enam sampai lima tahun, lalu memutuskan untuk berpisah," tuturnya.

Ada pula yang usia rumah tangganya hanya seumur jagung kemudian bercerai. "Kalau itu rata-rata cerai cepat karena hamil duluan, suami istri tidak kumpul, bahkan tidak mengakui anaknya," papar dia. WILLY ABRAHAM

Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved