Senin, 13 April 2026

Malang Raya

Terpidana Perkara Suap Budidaya Maggot di Lapas Lowokwaru untuk Kelola Sampah Organik

Lapas Lowokwaru telah berhasil memanen 70 Kilogram Maggot sejak melakukan budidaya pada 10 Agustus 2019.

Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah | Editor: yuli
edgar
Ali Murtopo terpidana perkara suap penyedia sarana Dinas Pendidikan Kabupaten Malang (kiri) bersama dengan Kepala Keamanan Lapas Lowokwaru Malang, Giyono saat menunjukkan pembudidayaan Maggot untuk mengelola sampah yang ada di LP Lowokwaru Kota Malang, Selasa (3/9). 

SURYAMALANG.COM, BLIMBING - Lapas Kelas I Lowokwaru, Kota Malang kini telah melakukan pembudidayaan Maggot untuk pengelolaan sampah.

Maggot merupakan belatung pengurai sampah dari lalat berjenis Black Soldier Flies (BSF).

Ide tersebut tercetus setelah Lapas Lowokwaru mengalami beberapa permasalahan terkait dengan sampah.

Dalam sehari saja, Lapas Lowokwaru mampu menghasilkan 300 Kilogram sampah, baik sampah organik maupun anorganik.

Untuk itu, pada tanggal 10 Agustus kemarin, Lapas Lowokwaru menggelar pelatihan terkait dengan pengelolaan sampah melalui pembudidayaan Maggot.

Dari situlah, Maggot mulai dibudidayakan dan diinisiasi oleh Ali Murtopo, yang juga warga binaan sekaligus terpidana perkara suap penyedia sarana Dinas Pendidikan Kabupaten Malang.

"Dari hasil acara tersebut, kami membeli bibit Maggot. Kemudian kami kembangkan guna mengatasi problematika sampah yang ada di sini (LP Lowokwaru)," ujarnya.

Proses pembudidayaan Maggot dilakukan dengan cara mengumpulkan sampah organik yang terdiri dari sayuran hingga buah-buahan.

Sampah tersebut merupakan makanan dari Maggot yang telah difermentasikan melalui beberapa tahapan-tahapan.

Yakni melalui beberapa campuran dari tetes tebu dan juga dari EMP Prebiotik.

Tujuannya ialah untuk meningkatkan protein kepada Maggot, sekaligus untuk menghilangkan bau yang tidak sedap dari sampah itu sendiri.

"Maggot itu kami taruh disebuah wadah yang telah kami beri katul dan mulasi. Setelah itu kami beri makan berupa sampah itu tadi. Dan siklus panennya berlangsung sekitar 45 hari. Tapi itu mulai dari telur hingga jadi lalat," ujarnya.

Hingga kini, Lapas Lowokwaru telah berhasil memanen 70 Kilogram Maggot sejak melakukan budidaya pada 10 Agustus 2019.

Maggot akan digunakan untuk ternak lele yang rencananya juga akan dilakukan pembudidayaan di dalam LP Lowokwaru.

Hanya saja, kata Ali, LP Lowokwaru kini masih fokus dalam pembudidayaan Maggot untuk mengurangi sampah organik terlebih dahulu.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved