Malang Raya

SDN Kasin Kota Malang Coba Populerkan Lagi 'Nulis Gedrig' atau Menulis Huruf Tegak Bersambung

NULIS GEDRIG. Siapa yang masih biasa melakukannya? Ini gaya menulis halus atau menulis huruf tegak sambung. SDN Kasin coba populerkan lagi.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: yuli
sylvianita widyawati
Budi Hartono, Kepala SDN Kasin Kota Malang memberikan contoh hasil tulisan tegak bersambung milik siswa kelas 6C sebagai bagian dari kegiatan literasi menulis, Jumat (20/9/2019). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Menulis halus atau menulis huruf tegak sambung sudah banyak ditinggalkan siswa. Bahkan di jenjang SD biasanya hanya sampai kelas 2 atau 3.

Setelah itu, kebanyakan menulis huruf tegak biasa hingga dewasa. Dalam bahasa Jawa biasanya disebut nulis gedrig.

SDN Kasin, Kelurahan Kasin Kecamatan Klojen, Kota Malang menggiatkan lagi menulis halus itu mulai semester ini untuk kelas 1 sampai 6. Ada buku tulis khusus untuk itu.

"Menulis tegak bersabung sudah banyak yang lupa. Ini juga sebagai kegiatan literasi menulis. Biasanya literasi identik dengan membaca saja," jelas Budi Hartono, Kepala SDN Kasin, kepada Suryamalang.com, Jumat (20/9/2019).

Menulis tegak bersabung juga melatih kesabaran, mengingat huruf, membaca juga untuk motorik. Memang menulis ini tidak sepanjang hari. Marie Daniel, guru kelas 6A, menyatakan, setiap Senin di kelasnya digiatkan latihan itu.

"Dilakukan sebelum pembelajaran sebagai pembiasaan," jelas Daniel.

Ia pribadi senang dengan program sekolah itu karena memang sudah banyak yang lupa bagaimana menulis halus.

"Ini juga melatih kesabaran menulis," jawabnya.

Apalagi siswa sudah lama tak melakukan itu. Ia menunjukkan contoh buku menulis milik siswanya. Buku itu disimpan di kelas. Bisa dibawa pulang jika ada penugasan. Setelah itu dikembalikan lagi.

"Misalkan saya tugaskan mencari artikel biografi seseorang. Nilai positifnya dari biografi itu, siswa saya minta menulis halus di bukunya," cerita guru muda ini.

Di buku itu ada artikel tentang almarhum BJ Habibie berikut fotonya. Sedang di halaman berikutnya diberi nilai positif tentang artikel itu dalam tulisan halus.

Dijelaskan Budi, kegiatan literasi bisa dilakukan banyak hal. Seperti bahasa dengan menulis dan membaca. Ada literasi numerik seperti latihan perkalian di matematika. Filza Safi Nazifa, siswa kelas 6C menyatakan suka kala menulis tegak bersabung digiatkan lagi. "Mungkin karena saya suka menulis," jawab Filza pada suryamalang.com.

Dijelaskan, ia terakhir menulis halus pada kelas 3 SD. Karena suka, maka ia merasa gampang. Namun temannya juga ada yang gak suka. Budi Hartono menceritakan pernah menunggui siswa kelas 6C untuk menulis tegak bersambung dua jam.

"Ya memang ada siswa yang suka dan tidak," katanya membenarkan. Ia meminta siswa waktu itu menyalin bacaan di LKS tentang Komik di buku tulis.

Contoh tulisan siswa kelas 6C juga ditunjukkan. Sedang Ahmad Alfi, siswa kelas 6C merasakan sulit menulis tegak bersabung karena sudah lama tidak latihan. "Terakhir menulis halus ya kelas 3 SD itu," jawab Alfi.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved