Malang Raya
Perusuh di Wamena Bakar Rumah Bakul Bakso asal Sampang, Sembunyi di Plafon hingga Terluka
KERUSUHAN DI WAMENA. Abdul asal Sampang, Madura, hanya pedagang bakso. Massa mendobrak rumahnya. Abdul sembunyi di plafon. Rumahnya kemudian dibakar.
Penulis: Aminatus Sofya | Editor: yuli
KERUSUHAN DI WAMENA. Abdul asal Sampang, Madura, hanya pedagang bakso. Massa mendobrak rumahnya. Abdul sembunyi di plafon. Rumah kemudian dibakar.
SURYAMALANG.COM, PAKIS - Amuk massa di Wamena, Papua, menyisakan trauma bagi banyak warga perantau.
Salah satunya Abdul asal Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. Dia bagian dari 107 pengungsi kerusuhan Wamena asal Jawa Timur, Jawa Tengah dan Medan yang tiba di Malang, 3 Oktober 2019.
Saat kerusuhan meletus, Abdul terpaksa bersembunyi dalam plafon rumahnya di Jalan Hom-hom, Wamena kala massa mengepung.
Dul, sapaan akrabnya, berkisah saat itu ia menyiapkan dagangan bakso yang biasa dijual di sekitar kantor Bupati Jayawijaya.
Tiba-tiba, puluhan massa melakukan sweeping, menggedor pintu dan menyerang warga di sekitar tempat tinggalnya.
“Rumah-rumah dibakar. Ada yang diserang pakai panah. Kacau sekali,” kisah Dul kepada SURYAMALANG.COM.
BACA JUGA ARSIP BERITA TERKAIT KERUSUHAN DI WAMENA, PAPUA
• Cerita Neti Hamil Dua Bulan Mengungsi ke Polres Wamena, Pulang ke Medan Lewat Malang
• Tukang Ojek asal Pasuruan Dua Hari Masuk Hutan Wamena, Ribuan Perantau Masih Terjebak
• Duka Janda 43 Tahun Asal Probolinggo di Wamena, Rumahnya Dibakar dan Semua Hartanya Dirampas
Dul yang tinggal seorang diri menutup pintu rumahnya rapat-rapat.
Ia lari dan bersembunyi di dalam plafon. Melihat tidak ada orang, sekumpulan massa itu membakar rumah Dul menggunakan minyak tanah dan membuat wajah serta tangannya terluka.
“Sisa tenaga saya gunakan untuk lompat ke semak-semak,” ucapnya.
Ia mengatakan, berhasil mendapat pertolongan kala datang ke Markas Kodim.
Selama sepekan, ia mengungsi bersama ribuan warga lain yang mayoritas berasal dari Sumatera Selatan.
Dul kemudian memutuskan ke Bandara Wamena agar bisa pulang ke Jawa. Dua hari di bandara, ia lantas diangkut ke Jayapura dan akhirnya diterbangkan ke Malang.
“Saya sangat bersyukur bisa pulang. Alhamdulillah,” ucapnya.
Pria 32 tahun itu mengatakan tidak ingin kembali ke Papua. Pengalaman kelam ini membuatnya trauma hingga ia memutuskan pulang.
“Saya cari kerja di rumah saja. Kalau ingat keluarga di kampung, sudah ndak ingin kembali,” tutupnya.
