Kabar Mojokerto

Pagi yang Jahanam di Wamena dalam Kenangan Inamah, Guru SD asal Desa Jotangan, Mojokerto

Pagi yang Jahanam di Wamena dalam Kenangan Inamah, Guru SD asal Desa Jotangan, Mojokerto. Dia lihat massa berseragam pelajar mengepung sekolah.

Editor: yuli
febrianto ramadani
Inamah (40) beserta ibunya, Bini (65), warga Dusun Gembongan, Desa Rejotangan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, saat hendak menunjukkan foto kerusuhan di Wamena lewat smartphonenya, Senin (7/10/2019). 

"Sambil berlari kami minta evakuasi ke Polres Jayawijaya. Pada saat keluar dari sekolahan, ada mobil Polres tapi sama kepolisian suruh kembali lagi ke sekolah. Waktu itu sudah ditembak gas air mata. Kami kembali ke sekolah sambil mengeluh rasa pedih di mata kami," kenangnya. 

Beberapa jam kemudian, tanpa berpikir panjang, ia bersama guru, kepala sekolah dan para murid masuk ke dalam mobil dengan berdesak-desakan. 

"Akhirnya kami diungsikan di Polres sama Kodim. Semua masyarakat dan suami sudah numpuk di sana. Kami tidak pulang selama 2 hari. Saya tidak bisa tidur di sana. Pada hari ketiga, saya pulang ke rumah kontrakan dengan pengawalan dari kepolisian," ujarnya.

Pada hari ketiga, lanjut Inamah, ia beserta suami dan kedua anaknya membawa baju untuk diserahkan kepada masyarakat yang mengungsi di Polres dan Kodim.

"Waktu itu kartu keluarga saya ketinggalan, tapi ya sudahlah. Kemudian saya dan suami daftar ke TNI Angkatan Udara untuk pulang kampung. Saya daftarnya pada hari ketiga, penuh dan ramai sekali. Terus suami saya ditolong sama teman-temannya akhirnya, saya bisa daftar untuk pulang kampung," kenangnya.

Ia bersama suami dan kedua anaknya dipanggil lagi ke TNI AU pada Jumat (27/9/2019) untuk dikumpulkan.

"Kami berbaris 10 orang. Begitu ada pesawat Hercules tiba, terus disuruh masuk sudah. Kalau tidak salah pada pukul 10.00 Wib. Kemudian dari Wamena, take off ke Timika terus ke Biak. Terus sampai ke Makassar. Kami bermalam di Asrama TNI AU. Paginya, Sabtu (28/9/2019), kami diantar ke Semarang dengan pesawat yang sama dan bermalam di Dinas Sosial Semarang. Besoknya, dijemput oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Saya sampai di Mojokerto pada Minggu malam," terangnya.

Selama di Dinas Sosial Jawa Timur, alumnus Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya itu bertemu dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

"Saat bertemu Bu Khofifah, saya berharap bisa mendapatkan pekerjaan sebagai pengajar SD. Kalau Wamena sudah kondusif saya ikut suami dan kembali bekerja sebagai guru di SDN Wamena," harapannya.

Kini, Inamah berharap, pemerintah Indonesia bisa menyelesaikan konflik serta memulangkan warga pendatang yang terjebak dalam kerusuhan tersebut. febrianto ramadani

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved