Kabar Mojokerto
Pagi yang Jahanam di Wamena dalam Kenangan Inamah, Guru SD asal Desa Jotangan, Mojokerto
Pagi yang Jahanam di Wamena dalam Kenangan Inamah, Guru SD asal Desa Jotangan, Mojokerto. Dia lihat massa berseragam pelajar mengepung sekolah.
Pagi yang Jahanam di Wamena dalam Kenangan Inamah, Guru SD asal Desa Jotangan, Mojokerto. Dia lihat massa berseragam pelajar mengepung sekolah.
SURYAMALANG.COM, MOJOKERTO - Inamah (40), perempuan asal Dusun Gembongan, Desa Jotangan Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, bersyukur, bisa lolos dari keberingasan massa di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin (23/9/2019) silam.
Inamah merantau ke Papua sejak 2011 lalu. Dia bersama suaminya, Abdul Hobir (42) dan kedua anaknya, mengontrak rumah di Jalan Hom Hom.
Selama merantau di Wamena, Inamah bekerja sebagai guru di SDN Wamena. Sedangkan suaminya bekerja sebagai seorang sopir. Inama hingga kini masih terbiasa bicara Bahasa Indonesia logat Papua.
Saat kerusuhan itu, Inamah sedang memberikan tugas kepada muridnya di sekolah. Dan, inilah pagi yang jahanam di Wamena dalam kenangan Inamah.
"Sekitar jam 8 pagi, pada Senin (23/9/2019) lalu, saya di SDN Wamena lagi buka buku sama anak-anak dan kasih tugas. Tiba-tiba ada satpam berlari dan memberitahu saya dipanggil kepala sekolah," ungkapnya, Senin (7/10/2019).
"Dikasih tahu oleh kepala sekolah bahwa di beberapa tempat di Wamena telah terjadi kerusuhan massal. Akhirnya, saya sama guru lainnya disuruh telepon para wali murid untuk segera menjemput anak-anak. Masih ada 30 siswa dan 8 guru beserta saya yang waktu itu terjebak di sekolah karena tidak bisa keluar akibat kerusuhan itu," kenangnya.
Kemudian, lanjut Inamah, sekitar pukul 8.30 pagi, ada gerombolan massa yang memakai baju pelajar SMA PGRI menyerang SMAN Wamena yang sedang melaksanakan UTS.
• Pria Lamongan Berkaus Tentara saat Minggat dari Wamena ke Jayapura Lalu Naik Kapal ke Surabaya
• 22 Warga Trenggalek Pergi dari Wamena Pakai Biaya Sendiri, Lima Orang Sekeluarga Tiba Besok
• Derita Tukang Ojek dan Bakul Jajan asal Madura di Wamena, Lihat Pelajar Ikut Lempar Batu
• 3 Oktober 2019, 107 Orang Dewasa dan 14 Anak Pengungsi dari Wamena Tiba di Malang
• Cerita Neti Hamil Dua Bulan Mengungsi ke Polres Wamena, Pulang ke Medan Lewat Malang
• Duka Janda 43 Tahun Asal Probolinggo di Wamena, Rumahnya Dibakar dan Semua Hartanya Dirampas
• Tukang Ojek asal Pasuruan Dua Hari Masuk Hutan Wamena, Ribuan Perantau Masih Terjebak

"SMAN Wamena jadi hancur karena dilempar batu batu besar. Akhirnya, para siswa siswi SMAN Wamena lari ketakutan. Kalau orang asli Wamena yang melakukan itu, saya rasa tidak mungkin karena mereka orangnya baik-baik. Yang melakukan itu mungkin orang yang menginginkan pisah dari NKRI. Dengan memakai baju siswa, padahal penampilannya bukan seperti siswa," ujarnya.
Secara bersamaan, lanjut Inamah, massa kemudian menyerang SDN Wamena yang lokasinya yang tidak jauh dari SMAN Wamena. Inamah bersama guru dan siswa lainnya bersembunyi di kelas paling ujung.
"Padahal sama Satpam SDN Wamena sudah berusaha mengusir mereka di depan gerbang. Tapi mereka tetap melempar batu dan menembak sana sini. Kami ketakutan hingga ada pendeta asli Wamena, menjemput anaknya di sekolah. Pendeta itu juga menghadang mereka," ungkapnya.
Pendeta itu, lanjut Inamah, berusaha menghadang dan mengatakan kepada massa bahwa tidak ada orang di SDN Wamena.
'Usai berkata demikian, massa meninggalkan tempat itu. Mereka kemudian menjarah kios di depan Perumahan SDN Wamena. Mereka juga membakar kios. Tapi pemilik kios melarang massa untuk membakar. Akhirnya mereka cuma mengambil barang dagangan kios," lanjutnya.
Bukan sampai di situ saja, massa juga menyerang kantor DPR dan sejumlah instansi Pemerintahan Wamena.
"Begitu sudah sampai, mereka langsung meledakkan kantor pemerintahan pakai bom molotov. Kantor Kejaksaan, Kantor Dinas Perhubungan, rumah kontrakan di sekitarnya dalam sekejap sudah habis terbakar," terangnya.
"Sambil berlari kami minta evakuasi ke Polres Jayawijaya. Pada saat keluar dari sekolahan, ada mobil Polres tapi sama kepolisian suruh kembali lagi ke sekolah. Waktu itu sudah ditembak gas air mata. Kami kembali ke sekolah sambil mengeluh rasa pedih di mata kami," kenangnya.
Beberapa jam kemudian, tanpa berpikir panjang, ia bersama guru, kepala sekolah dan para murid masuk ke dalam mobil dengan berdesak-desakan.
"Akhirnya kami diungsikan di Polres sama Kodim. Semua masyarakat dan suami sudah numpuk di sana. Kami tidak pulang selama 2 hari. Saya tidak bisa tidur di sana. Pada hari ketiga, saya pulang ke rumah kontrakan dengan pengawalan dari kepolisian," ujarnya.
Pada hari ketiga, lanjut Inamah, ia beserta suami dan kedua anaknya membawa baju untuk diserahkan kepada masyarakat yang mengungsi di Polres dan Kodim.
"Waktu itu kartu keluarga saya ketinggalan, tapi ya sudahlah. Kemudian saya dan suami daftar ke TNI Angkatan Udara untuk pulang kampung. Saya daftarnya pada hari ketiga, penuh dan ramai sekali. Terus suami saya ditolong sama teman-temannya akhirnya, saya bisa daftar untuk pulang kampung," kenangnya.
Ia bersama suami dan kedua anaknya dipanggil lagi ke TNI AU pada Jumat (27/9/2019) untuk dikumpulkan.
"Kami berbaris 10 orang. Begitu ada pesawat Hercules tiba, terus disuruh masuk sudah. Kalau tidak salah pada pukul 10.00 Wib. Kemudian dari Wamena, take off ke Timika terus ke Biak. Terus sampai ke Makassar. Kami bermalam di Asrama TNI AU. Paginya, Sabtu (28/9/2019), kami diantar ke Semarang dengan pesawat yang sama dan bermalam di Dinas Sosial Semarang. Besoknya, dijemput oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Saya sampai di Mojokerto pada Minggu malam," terangnya.
Selama di Dinas Sosial Jawa Timur, alumnus Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya itu bertemu dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
"Saat bertemu Bu Khofifah, saya berharap bisa mendapatkan pekerjaan sebagai pengajar SD. Kalau Wamena sudah kondusif saya ikut suami dan kembali bekerja sebagai guru di SDN Wamena," harapannya.
Kini, Inamah berharap, pemerintah Indonesia bisa menyelesaikan konflik serta memulangkan warga pendatang yang terjebak dalam kerusuhan tersebut. febrianto ramadani