Universitas Muhammadiyah Malang

Cara Mahasiswa UMY, UB Malang dan UI Mempersiapkan Kontes Kapal Cepat Tak Berawak di Kampus UMM

Mahasiswa Teknik Mesin FT UB Malang Bikin Catarina 62, Kapal Cepat Pemberantas Perompak. Baru sekali ikut kontes kapal cepat tanpa awak di kampus UMM.

Cara Mahasiswa UMY, UB Malang dan UI Mempersiapkan Kontes Kapal Cepat Tak Berawak di Kampus UMM
hayu yudha prabowo
KONTES KAPAL - Peserta Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) 2019 saat uji lintasan di kolam kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang, Jumat (11/10/2019). KCTBN yang digelar Kemenristekdikti ini melombakan tiga kategori kapal yang diikuti 60 tim dari 30 Perguruan Tinggi se-Indonesia. 

SURYAMALANG.COM, DAU - Universitas Brawijaya (UB) Malang hanya mengirimkan satu tim di Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) 2019 di kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat sore (11/10/2019). Tim turun di kelas ERC (Electric Remote Control).

"Baru pertama kali ini UB ikut KKCTBN," tutur Ahmad Qomaruz Z, mahasiswa Teknik Mesin FT UB pada Suryamalang.com di sela acara. Nama kapalnya Catarina 62, Kapal Cepat Pemberantas Perompak.

Tema kontes tahun ini adalah "Teknologi Kapal Untuk Menjaga Kedaulatan Bangsa Di Era Revolusi Industri 4.0". Karena baru pertama kali ikut, ia menyatakan belum ada target untuk juara.

"Masih buat pembelajaran," papar pilot remote control kapal ini. Dari hasil latihan, jika belok, radiusnya kecil karena mencengkeram air. Di kapal ini juga ada fasilitas untuk mendarat helikopter untuk menangkap perompak.

Sedangkan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) juga baru pertama kali ikut KKCTBN. "Tim kami turun di kelas ASV atau kapal kendali otomatis," jelas M Haryo Pangestu dari Tim UMY pada Suryamalang.com.

VIDEO - 62 Tim dari 30 Kampus se-Indonesia Ikuti Kontes Kapal Cepat Tak Berawak di Kampus UMM

Arena lomba kelas ini di danau Taman Sengkaling. "Karena baru pertama kali ikut, memang ada tantangannya," jelas Haryo.

Sebab kapalnya memakai sensor. Ada perubahan suhu dan cahaya, maka sensor kesulitan membaca sehingga ada missed.

"Kami sudah latihan di danau Sengkaling. Saat pagi tak ada kendala. Tapi saat sore, sensor salah baca. Misalkan ada bola ketutup bayangan pohon," papar dia.

Sedangkan dari Universitas Indonesia (UI) turun di tiga kelas atau kategori. Yaitu kapal kendali otomatis, kapal cepat listrik sistem kendali jarak jauh dan kapal cepat berbahan bakar dengan sistem kendali jauh).

Saat kontes ini diadakan pada 2018 di Politeknik Negeri Madura, UI meraih juara kedua. Juara umum dipegang UGM.

"Untuk kontes di UMM, kami lebih prepare sejak sebulan lalu untuk trial and error," jelas Atikah Sahidah, mahasiswa UI yang dari Tim ASV (Kapal Kendali Otomatis) pada Suryamalang.com.

Mereka berharap bisa meraih juara di UMM.

Dijelaskan, untuk arena lomba dibilang mirip dengan danau di UI. "Tapi masalah cuaca dan suhu juga memberi pengaruh memang. Apalagi kondisi di Malang berbeda atau lebih dingin sehingga perlu dikalibrasi ulang," jelasnya.

Perguruan tinggi di Malang yang ikut kontes ini adalah UMM, UM, UB dan ITN. 

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved