Breaking News:

Universitas Islam Malang

Pejabat Densus 88 ke Kampus Unisma, Membincang Penyebaran Radikalisme di Kalangan Kampus

"Apalagi bunuh diri untuk mati syahid. Ini mati sangit (gosong). Ajaran dari mana ini?" ujar Rektor Unisma.

sylvianita widyawati
Kegiatan seminar nasional mencegah paham radikalisme di kampus di Unisma, Rabu (6/11/2019). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Masalah radikalisme di kampus dibahas dalam seminar "Peran Mahasiswa Dalam Mencegah Faham Radikalisme di Lingkungan Kampus Untuk Menjaga Keuntuhan Bangsa" di Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (6/11/2019).

Pembicaranya Rektor Unisma Prof Dr Maskuri MSi, Dr Hoiruddin Hasibuan dari Densus 88 Polri dan Prof Dr Hj Umi Sumbullah, Direktur Pascasarjana UIN Malang.

"Beragam istilah mengenai radikalisme. Ada islam militan, ekstrimistis hingga radikalisme," kata Umi di forum itu.

Hal ini diikuti ada perubahan penampilannya, perilaku ekslusif, aktif memposting konten "berbau" radikalisme di media sosial, melakukan "prospek" untuk menjadi teman, melakukan sosialisasi penyebaran ideologi, dll. Adanya hal itu, perguruan tinggi agama Islam meresponsnya dengan membuat aturan.

"Seperti kewajiban mahasiswa memperlihatkan wajah di dalam proses akademik. Kemudian ada larangan terlibat dalam organisasi yang bertentangan dengan ideologi negara," paparnya. Kemudian juga ada revitalisasi pembelajaran Pancasila dan pendidikan kewarganegaraan, melakukam pendampingan pada mahasiswa yang terpapar radikalisme dkk.

Hoiruddin menyatakan radikalisme adalah paham untuk melakukan perubahan. Sedang terorisme adalah perbuatan untuk mencapai tujuan. "Karena melakukan aksi melalui teror itulah yang ditakuti masyarakat," jelasnya. Karena itu, radikalisme tidak mudah dihilangkan. Untuk radikalisme, yang direkrut tak hanya pelajar, mahasiswa tapi juga orangtua.

"Dalam rukun Islam mereka ada enam yaitu jihad berupa harus perang pada orang kafir. Kafir adalah orang-orang yang taberdasarkan syariah Islam atau negara yang tak berdasarkan Islam dan hadist," papar dia.

Pada mahasiswa, biasanya didekati saat mulai awal masuk kuliah sebagai mahasiswa baru (maba). Awalnya bisa dari mushola kampus.

"Mushola juga harus dapat perhatian Pak Rektor," katanya pada Maskuri.

Modus operandi ini kerap dijalankan seperti itu. Apalagi maba umumnya dari berbagai daerah. Sedang Maskuri membeberkan materinya dari risetnya pada 2014 dan hendak dibukukan.

Halaman
12
Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved