Malang Raya
UMKM Batik Blimbing Malang Fokus Kembangkan Budaya Lokal Malangan Melalui Batik Tulis
Batik merupakan salah satu warisan budaya leluhur bangsa Indonesia yang perlu dilestarikan.
Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, BLIMBING - Batik merupakan salah satu warisan budaya leluhur bangsa Indonesia yang perlu dilestarikan.
Batik kini tidak hanya untuk menunjukkan penampilan seseorang, tapi batik juga bisa menyampaikan cerita atau pesan bagi pemakai maupun bagi yang memandangnya.
Pesan itulah yang coba diangkat oleh UMKM Batik Blimbing Malang yang memiliki home industri dan galeri di Jalan Jago No. 6 Kota Malang.
Dalam membentuk seni dekoratif kontemporer ini, Batik Blimbing Malang fokus dalam mengembangkan batik tulis, batik cap dan kombinasi.
Mereka kini telah memiliki beberapa motif batik yang dijadikan sebagai ikon dari Kota Malang.
Motif batik tersebut di antaranya ialah Topeng Malangan, Tugu Malang, hingga yang terbaru Kampung Warna-Warni Jodipan.
Selain itu, motif lain yang diangkat ialah gambar bunga dan juga binatang.
Harga yang dibanderol pun cukup beragam, mulai dari range harga Rp 175.000 hingga Rp 1,5 juta.
Besaran harga tersebut dilihat, dari jenis kain hingga tingkat kesulitan dalam proses produksi.
“Apapun motifnya, pasti akan kami beri ikon Kota Malang seperti Topeng Malangan misalnya.”
“Karena kami memang ingin mengangkat budaya lokal agar lebih dikenal,” ucap Aulya Rishmawati, pengelola UMKM Batik Blimbing Malang kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (21/11/2019).
Perempuan berusia 36 tahun itu menceritakan, UMKM Batik Blimbing Malang berdiri pada tahun 2010.
Pada saat itu, ibu Aulya yang bernama Wiwik Niarti berkeinginan untuk mengembangkan batik secara otodidak.
Keinginan tersebut muncul, setelah melihat potensi batik di Kota Malang pada waktu itu belum begitu berkembang.
Padahal, Wiwik pada saat itu tidak memiliki background apapun mengenai batik.
Dia hanya mengenal batik melalui pelatihan yang diberikan mentor kepada ibu-ibu PKK di lingkungan sekitarnya pada tahun 2009 lalu.
Namun, kegiatan tersebut tidak berlangsung lama karena beberapa kondisi yang menyebabkan kegiatan batik tersebut harus berakhir di tengah jalan.
“Batik kan bergerak di bidang seni. Jadi membutuhkan ketelatenan dan lain sebagainya.”
“Apalagi kebanyakan warga di sini bergerak di bidang kuliner dan pertokoan. Mungkin itulah yang menjadi dasar kegiatan pelatihan itu tidak bisa berjalan lama,” ucap perempuan berkerudung itu.
Dari pelatihan batik itulah, Wiwik bersama dengan anaknya Aulya mulai belajar secara otodidak membuat batik.
Mereka kemudian melakukan studi ke Yogyakarta hingga Solo untuk mulai belajar batik dan bagaimana cara untuk mengembangkan usaha batik.
Dengan bermodalkan uang senilai Rp 200 Ribu, mereka mulai mengembangkan usaha produksi batik.
Dua sampai tiga batik mereka hasilkan dalam satu bulan proses produksi.
Usahanya kemudian terus berkembang hingga mereka memiliki dua orang karyawan yang mereka ambil dari lulusan siswa SMK 5 Malang jurusan tekstil.
Hasil produksi Batik Blimbing Malang kemudian dijualnya ke beberapa teman-temannya.
“Waktu itu kain batik kami jual seharga Rp 175-225 Ribu. Per bulan kami biasanya laku satu sampai dua batik saja. Awalnya memang kami banyak rugi. Karena kami juga harus membayar karyawan kami,” ucapnya.
Agar usahanya tersebut terus berkembang, Wiwik yang juga guru di SMK 4 Malang itu akhirnya mendatangi Dinas Koperasi dan UMKM dan Dinas Perindustrian Kota Malang.
Wiwik ingin mengenalkan produknya ke sejumlah dinas tersebut dengan tujuan, agar batik yang telah ia buat bisa mengikuti pameran sekaligus juga menjadi ajang pemasaran.
Pertemuan tersebut akhirnya membuahkan hasil, hingga akhirnya Wiwik mengikuti pameran batik perdananya di tahun 2011.
Setelah itu, di tahun 2012, Wiwik bersama dengan Aulya mendapatkan penghargaan sebagai instruktur batik dari Dinas Ketenagakerjaan dan Sosial Kota Malang.
Mulai dari situlah, beragam pameran telah mereka ikuti, dan mereka juga mulai memberikan pelatihan-pelatihan membatik kepada masyarakat dan ke sekolah-sekolah.
“Batik Blimbing Malang mulai dikenal pada tahun 2013. Usaha ini kami jalankan pelan-pelan hingga saat ini kami memiliki galeri dan home industri,” ucapnya.
Kini, produk batik buatan Batik Blimbing Malang telah dipasarkan ke seluruh Indonesia hingga ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura.
Per bulan, UMKM Batik Blimbing Malang dapat meraup omset hingga Rp 10 Juta dan mampu memproduksi 20 kain batik per bulan.
Kebanyakan batik tersebut dipasarkan melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram.
“Akhir-akhir ini kami banyak menerima pesanan. Pesanan lebih banyak dari Jakarta karena banyak yang memesan Topeng Malangan,” ujar Aulya yang juga guru di SDN Blimbing III Kota Malang itu.
Perjuangan yang telah digeluti UMKM Batik Blimbing Malang diraih bukan dengan cara yang mudah.
Bahkan, pada tahun 2017, mereka sempat ditinggal oleh 10 karyawan yang kebanyakan merupakan siswa SMK.
Padahal, pada waktu itu omset pesanan batik sedang ramai-ramainya.
Oleh karena itu, UMKM Batik Blimbing Malang lebih selektif lagi dalam memilih karyawan.
Disitulah mereka mencari karyawan yang loyal dengan memiliki SDM yang mumpuni di bidang Batik.
Karena bagi Aulya bekerja menjadi seorang pembatik harus memiliki ketlatenan, ketrampilan dan skill yang mumpuni.
“Saat ini jumlah karyawan kami ada lima. Kenapa jumlahnya sedikit? Karena dengan sedikit karyawan kami bisa bekerja secara maksimal sesuai dengan yang kita butuhkan,” tandasnya.
Biodata
Pemilik: Wiwik Niarti dan Aulya Rishmawati
Alamat: Jalan Jago No. 6, Blimbinh Kota Malang
Tahun Berdiri: 2010
Produk: Batik tulis, Batik cap dan Batik Kombinasi
Omset: Rp 10 Juta per bulan
Instagram: Batik_Blimbing
Website: www.batikmalang.com
Penghargaan: Encompass Award, Ikatan Pecinta Batik Nusantara dan Penghargaan dari Kementerian Perindustrian.