Tekno

Tahun 2020 Pakai WhatsApp Harus Bayar? Intip 7 Fakta di Baliknya & Langganan Rp 14 Ribu per Tahun

Tahun 2020 pakai WhatsApp harus bayar? intip 7 fakta di baliknya, termasuk langganan Rp 14 ribu per tahun.

Tahun 2020 Pakai WhatsApp Harus Bayar? Intip 7 Fakta di Baliknya & Langganan Rp 14 Ribu per Tahun
SURYAMALANG.COM/kolase Tribunnews.com
Tahun 2020 Pakai WhatsApp Harus Bayar? Intip 7 Fakta di Baliknya & Langganan Rp 14 Ribu per tahun 

Namun, WhatsApp menghapus biaya berlangganan tersebut pada 2016, yang berarti layanan WhatsApp bisa digunakan secara cuma-cuma untuk selamanya.

7. Pengguna WhatsApp Membludak 

Pengumuman batalnya WhatsApp berbayar dilontarkan saat layanan pesan instan tersebut sudah digunakan oleh hampir 1 miliar orang, tepatnya 990 juta pengguna.

Berdasarkan data dari Statista, WhatsApp saat ini sudah memiliki 1,5 miliar pengguna aktif harian per Desember 2017.

Hingga berita ini ditayangkan, WhatsApp sejatinya masih gratis di seluruh platform, baik untuk iOS maupun Android.

Pihak WhatsApp sama sekali belum mengungkapkan apakah mereka akan kembali ke model bisnis monetisasi lawas, dengan cara berlangganan tadi atau tidak.

Mereka biasanya menyampaikan kebijakan teranyar WhatsApp di beberapa kanal, seperti akun resmi WhatsApp di Twitter atau di laman Blog WhatsApp.

Namun, pantauan KompasTekno di kedua kanal tersebut, Jumat (17/1/2020), tidak ada informasi terbaru soal rencana monetisasi WhatsApp.

WhatsApp Terpopuler Tahun 2019

Sementara itu WhatsApp menjadi aplikasi yang terpopuler, atau paling banyak di- download sepanjang 2019.

Hal ini terungkap dari hasil riset firma peneliti aplikasi Sensor Tower di dalam laporan "Store Intelligence Data Digest: 2019 Year in Review".

Namun, dari survei tersebut juga terungkap bahwa jumlah unduhan aplikasi video TikTok buatan ByteDance dari China telah melampaui aplikasi Facebook, Instagram, dan Messenger.

Berdasarkan survei Sensor Tower, TikTok telah diunduh sebanyak lebih dari 700 juta kali sepanjang 2019.

Tiktok
Tiktok (Shutterstock)

Pencapaian ini otomatis menempatkan TikTok tepat di atas beragam aplikasi rintisan perusahaan Mark Zuckerberg, seperti Messenger, Facebook, dan Instagram.

Meski begitu, WhatsApp, yang notabene berada di bawah payung Facebook juga, masih mendominasi dengan 850 juta unduhan dalam periode yang sama.

Menarik melihat aplikasi TikTok kian digemari oleh para pengguna di seluruh dunia.

Padahal, jika menilik ke belakang, aplikasi besutan Facebook bisa dibilang merupakan "penghuni" posisi teratas di dalam daftar aplikasi yang paling banyak diunduh.

Pada 2016 dan 2017, misalnya, keempat aplikasi Facebook yang disebutkan tadi masih menduduki empat posisi teratas.

Namun, pada tahun 2018, TikTok mulai menampakkan batang hidungnya dalam daftar aplikasi yang paling banyak diunduh dengan menyabet posisi keempat.

Kala itu, TikTok hanya mampu menyalip jumlah unduhan aplikasi Instagram, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari SensorTower, Kamis (16/1/2020).

Dengan kata lain, dalam kurun satu tahun, TikTok menyalip dua aplikasi besar macam Facebook dan Messenger.

Perlu dicatat, sensor Tower sendiri menghitung angka unduhan ini berdasarkan jumlah download aplikasi terkait di toko aplikasi App Store (iOS) dan Google Play Store (Android) mulai dari 1 Januari hingga 31 Desember 2019.

Adapun aplikasi TikTok yang diunduh melalui toko aplikasi pihak ketiga di luar dua platform tadi, atau aplikasi TikTok yang terpasang pre-loaded di ponsel, tidak disertakan dalam riset Sensor Tower.

Penulis: Sarah Elnyora
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved