Malang Raya

Lapas Lowokwaru Malang Siap Pindahkan Penghuninya ke Lapas Ngajum, Mulai Lakukan Seleksi Napi

Saat ini sedang dilakukan seleksi administrasi bagi Napi yang bisa ditempatkan di lapas terbuka Ngajum.

SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Kalapas kelas 1 Malang, Agung Krisna saat di Universitas Negeri Malang (UM), Rabu (22/1/2020). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Lpaas kelas 1 Malang atau Lapas Lowokwaru secara bertahap akan mulai memindahkan sebagian warga binaannya ke Lapas terbuka di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.

Saat ini persiapan kepindahan warga binaan ke Lapas baru di Malang itu sudah berjalan, yakni memasuki tahap seleksi.

Kalapas kelas 1 Malang, Agung Krisna, menyatakan saat ini sedang dilakukan seleksi administrasi bagi Napi yang bisa ditempatkan di lapas terbuka Ngajum.

Minta ZA Diputus Bebas di Kasus Begal, Kuasa Hukum : Ontslag van Rechtvervolging Layak Diberikan

Kisah Pilu Remaja Perempuan Alami Gangguan Jiwa Berat, Jadi Korban Bapak Kandung Bejat di Trenggalek

Arema FC Akan Gelar Kejuaraan, Gantikan Piala Presiden 2020 yang Bisa Ditiadakan Musim Ini

Mereka nanti yang ditempatkan di sana adalah warga binaan yang kurang setahun masa hukumannya.

"Seleksinya cukup ketat untuk di sana. Seleksi administrasi seperti kelengkapan berkas vonis, sudah ikuti tahapan pembinaan, tidak melakukan pelanggaran. Nanti yang menyeleksi adalah asesor," papar Agung Krisna pada suryamalang.com usai mengikuti kegiatan di UM, Rabu (22/1/2020) .

Warga binaan yang akan dipindah juga dipastikan dulu kesiapan mentalnya serta dipastikan sudah ikut pelatihan.

Jika sudah memiliki keterampilan, mental baik maka bisa dikenalkan ke masyarakat. Jadi ketika bebas, mereka sudah berketerampilan.

Kepindahan sebagian warga binaan ke Ngajum tentunya akan mengurangi kepadatann penghuni Lapas Lowokwaru yang kini dihuni 3.110 orang.

Sebagian besar penghuni lapas kelas 1 adalah warga Malang Raya. Sisanya 10 persen kiriman berbagai daerah.

Lapas terbuka di Ngajum disebut sebagai Lapas jeruji dan tembok tinggi.

Lapas baru ini memiliki lahan seluas 20 hektare.

Lapas di Ngajum dikatakan, akan dikoneksikan dengan pariwisata di Ngajum sehingga jadi destinasi wisata.

Di area desa itu juga ada air terjun dan bisa ke kawasan Gunung Kawi.

Lahan sekitar Lapas juga akan diberdayakan seperti untuk pertanian. Sebab kebutuhan makanan untuk napi juga besar.

Sehari, per warga binaan mendapat jatah Rp 19.000 untuk makan tiga kali sehari. Jumlahnya cukup besar jika dikalikan jumlah napi dan dalam waktu setahun sudah mencapai mencapai sekitar Rp 52 miliaran.

"Harapan saya lapas tidak hanya menghabiskan anggaran saja, tapi juga bisa dapat Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP)," katanya.

Diharapkan nanti lapas pengembangan Ngajum bisa selesai pada Juni 2020 dan bisa dilakukan evaluasi.

.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved