Breaking News:

Kabar Surabaya

Pemuda Tionghoa-Jawa Bersatu di Tarian Singa, Berharap Tahun Baru Imlek Ini Indonesia Lebih Maju

Tim Tarian Singa & Naga Ksatria Citra Satria Ongkowijoyo mengatakan semua anggota berasal dari berbagai suku.Tanpa perhatikan warna kulit, ras, agama

SURYAMALANG.COM/Sugiharto
Sejumlah pengunjung menonton atraksi Liong-liong dan barongsai di Royal Plasa Surabaya, Jumat (24/1/2020), Pertunjukkan ini digelar untuk merayakan Tahun Baru Imlek. 

“Kami ingin menunjukkan bahwa tim ini adalah pluralisme. Semuanya ada di sini,” ujarnya, Jumat (24/1/2020).

Beberapa tahun lalu, Tim Tarian Singa dan Naga Ksatria pernah menorehkan rekor dengan bermain sebanyak 85 kali selama dua minggu.

Mereka bisa melakukan 120 kali pementasan selama 1 tahun di luar Hari Raya Imlek.

Saat ini mereka mendapatkan panggilan pementasan di 11 tempat yang berbeda. “Kami sering main di luar momen Imlek. Seperti peresmian pabrik, mantenan, khitan, sehingga barongsai tidak hanya eksklusif dengan golongan tertentu,” imbuhnya.

Di tengah zaman yang modern, lanjut Citra, Tim Tarian Singa dan Naga Ksatria telah melakukan berbagai inovasi. Tujuannya untuk mempertahankan dan melestarikan budaya tersebut kepada generasi yang akan datang.

“Kami ingin menampilkan kebudayaan yang sering dianggap kuno oleh orang lain. Dengan cara berbagai upaya yang tidak berlebihan. Seperti menampilkan skenario yang cantik, yaitu membagikan buah seperti jeruk atau suvenir lainnya yang sesuai dengan tahunnya. Untuk saat ini kan Tahun Tikus, kami telah menyiapkan suvenir itu kepada para penonton,” jelasnya.

Citra Satria berharap, di Tahun Imlek 2020 masyarakat Indonesia diberi kesehatan dan kesuksesan demi masa depan yang lebih baik.

“Semoga di tahun ini Indonesia harus lebih maju dan lebih baik dari tahun tahun sebelumnya,” ucapnya.

Salah satu anggota barongsai Tim Tarian Singa dan Naga Ksatria dari suku Jawa, Ahmad Rifai (28), mengaku bergabung dengan klub itu karena alasan budaya, hobi, dan olahraga. Rifai menjadi anggota sejak 2005.

“Pertama kali gabung kesulitannya pada awal-awal latihan.  Sebelum latihan barongsai harus berlatih kuda kuda, kemudian latihan fisik, dan bela diri wushu,” ungkap pria yang juga bekerja sebagai pengusaha dekorasi dan renovasi rumah ini.

Halaman
123
Editor: Dyan Rekohadi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved