Kesehatan

Hasil Temuan Ilmuwan China Tentang Mutasi Virus Corona, Kemampuan Agresifnya Masih Diremehkan

Hasil penemuan dalam sebuah penelitian yang dilakukan ilmuwan China menyebutkan, virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19 ternyata bermutasi.

Editor: eko darmoko
SHUTTERSTOCK/CORONA BOREALIS STUDIO
Ilustrasi virus corona atau Covid-19 dalam bentuk 3D 

SURYAMALANG.COM - Hasil penemuan dalam sebuah penelitian yang dilakukan ilmuwan China menyebutkan, virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19 ternyata bermutasi.

Studi baru yang dilakukan para ilmuwan China telah menemukan kemampuan virus corona baru, SARS-CoV-2, dalam bermutasi.

Namun, hal ini masih banyak dianggap remeh.

Ilmuwan menilai strain yang berbeda mungkin saja memberi dampak penyakit Covid-19 yang berbeda di dunia.

Ilustrasi virus corona atau Covid-19 dalam bentuk 3D
Ilustrasi virus corona atau Covid-19 dalam bentuk 3D (SHUTTERSTOCK/ANDREAS PROTT)

Profesor Li Lanjuan dan rekan-rekannya di Zhejiang University menemukan mutasi virus corona pada sekelompok kecil pasien yang sebelumnya tidak dilaporkan.

Melansir South China Morning Post (SCMP), Selasa (21/4/2020), mutasi ini termasuk perubahan yang sangat langka, sehingga para ilmuwan tidak pernah menganggapnya mungkin terjadi.

Para peneliti juga telah mengkonfirmasi untuk pertama kalinya dengan bukti laboratorium.

Bukti ini menunjukkan mutasi tertentu dari virus penyebab Covid-19 tersebut ternyata dapat menciptakan jenis yang lebih mematikan dari jenis virus lainnya.

"SARS-CoV-2 telah memperoleh mutasi yang mampu secara substansial mengubah patogenisitasnya," kata Prof Li dan timnya dalam makalah yang dirilis pracetak di medRxiv.org pada Minggu (19/4/2020).

Ilustrasi virus corona atau Covid-19
Ilustrasi virus corona atau Covid-19 (Shutterstock via Kompas.com)

Prof Li memberikan bukti yang kuat untuk pertama kalinya, bahwa mutasi dapat memengaruhi seberapa parah virus menyebabkan penyakit atau kerusakan pada inangnya.

Untuk lebih menguatkan bukti tersebut, Prof Li menggunakan pendekatan yang tidak biasa untuk menyelidiki mutasi virus corona ini.

Dia menganalisa strain virus yang diisolasi dari 11 pasien Covid-19 yang dipilih secara acak dari Hangzhou di provinsi timur Zhejiang.

Selanjutnya, menguji seberapa efisien strain virus tersebut dapat menginfeksi dan membunuh sel.

Mutasi paling mematikan pada pasien Zhejiang juga telah ditemukan pada sebagian besar pasien di seluruh Eropa.

Sedangkan strain yang lebih ringan adalah varietas dominan yang ditemukan di Amerika Serikat, seperti di negara bagian Washington.

Studi lain juga menemukan strain virus corona di New York telah 'diimpor' dari Eropa, sehingga tingkat kematian di negara bagian ini serupa dengan di banyak negara di Eropa.

Kendati demikian, Prof Li mengingatkan mutasi yang lebih lemah bukan berarti risiko infeksi virus corona penyebab Covid-19 ini juga lebih rendah bagi semua orang.

Di Zhejiang, dua pasien berusia sekitar 30 tahun dan 50 tahun yang tertular strain virus corona yang lebih lemah menjadi sakit yang parah.

Ilustrasi Virus Corona
Ilustrasi Virus Corona (Stocktrek Images/Getty Images via Kompas.com)

Meskipun keduanya pada akhirnya dapat bertahan, namun pasien yang lebih tua membutuhkan perawatan di unit perawatan intensif.

Ukuran sampel dalam penelitian terbaru ini sangat kecil.

Studi lain yang melacak mutasi virus biasanya melibatkan ratusan, atau bahkan ribuan strain.

Tim Li mendeteksi lebih dari 30 mutasi virus corona dan di antara mereka sebanyak 19 mutasi atau sekitar 60 persen adalah mutasi virus baru.

Mereka menemukan beberapa mutasi ini dapat menyebabkan perubahan fungsional pada spike protein virus, struktur unik di atas selubung virus yang memungkinkan virus corona mengikat sel manusia.

Untuk memverifikasi teorinya, Li dan rekannya menginfeksi sel dengan strain yang membawa mutasi berbeda.

Jenis yang paling agresif dapat menghasilkan viral load hingga 270 kali lebih banyak dibandingkan jenis yang paling lemah.

Strain ini juga membunuh sel-sel dengan sangat cepat.

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved