Breaking News:

Kisah Nabi Muhammad SAW

Dada Nabi Muhammad SAW Dibelah Oleh Laki-laki Pembawa Baskom Emas Berisi Salju, saat Diasuh Halimah

Dada Nabi Muhammad SAW Dibelah Oleh Laki-laki Pembawa Baskom Emas Berisi Salju, saat Diasuh Halimah

Penulis: Eko Darmoko | Editor: eko darmoko
islam.nu.or.id
Kisah Nabi Muhammad SAW 

SURYAMALANG.COM - Nabi Muhammad SAW lahir di Mekkah saat terjadi wabah penyakit yang menyebabkan angka kematian bayi sangat tinggi.

Kisah ini dikutip SURYAMALANG.COM dari biografi ‘Muhammad Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik’ karya Martin Lings atau Abu Bakr Siraj al-Din, terbitan Serambi cetakan kedua 2014.

Situasi Mekkah yang sedang dihantam wabah penyakit, membuat keluarga Muhammad mengirimnya ke daerah gurun.

Selain itu, pengiriman bayi ke daerah gurun untuk disusui oleh ibu susu merupakan tradisi bangsa Arab.

Martin Lings menyebutkan, alasan lain mengirim bayi untuk disusui oleh wanita gurun adalah karena di sahara udaranya lebih segar dibandingkan dengan Mekkah.

Tentunya udara segar sangat baik untuk pertumbuhan bayi, tak terkecuali bayi Muhammad.

Nabi Muhammad SAW Lahir di Tengah Wabah Penyakit Mekkah, Halimah Mendapat Berkah saat Menyusuinya

Sejarah Asal Usul Nama Nabi Muhammad SAW dari Kesaksian Abdul Muttalib dan Aminah, Ada Cahaya Terang

Kisah Nabi Muhammad SAW
Kisah Nabi Muhammad SAW (islampos.com)

Muhammad pun kemudian disusui oleh perempuan dari suku Badui bernama Halimah yang memiliki suami bernama Harits.

Dalam masa mengasuh bayi Muhammad, keluarga pasangan Halimah dan Harits banyak memperoleh rezeki yang tak pernah mereka dapatkan sebelumnya.

Marting Lings mengisahkan, daerah tempat tinggal Halimah dan Harits adalah daerah yang gersang.

Di tengah kegersangan inilah terjadi peristiwa luar biasa yang dialami oleh rumah tangga Halimah dan Harits.

Domba-domba peliharaan Halimah dan Harits selalu kekenyangan oleh rerumputan di sekitar daerah gersang tersebut.

Bahkan, kata Halimah: “… domba-domba kami pulang setiap petang dengan ambing penuh air susu. Kami memerasnya dan meminumnya, sementara yang lain tak dapat menghasilkan air susu sedikit pun.” Tulis Martin Lings mengutip Ibn Ishaq, edisi Wustenfeld dari Sirah Rasul Allah, Kehidupan Nabi.

Itu hanya contoh kecil keberkahan dan rezeki yang diperoleh keluarga Halimah saat mengasuh Muhammad.

Ketika Muhammad berusia dua tahun, Halimah dan Harits membawa Muhammad ke Mekkah untuk dikembalikan ke keluarganya, Aminah (ibu) dan Abdul Muttalib (kakek).

Namun, Halimah memohon agar masa pengasuhan terhadap Muhammad diperpanjang dengan maksud agar Muhammad terhindar dari wabah penyakit di Mekkah, serta agar fisiknya lebih kuat lagi.

Permohonan ini pun dikabulkan dan Halimah membawa Muhammad kembali ke tempat tinggalnya.

Singkat cerita, setelah beberapa bulan dari Mekkah, peristiwa luar biasa dialami Muhammad ketika bermain dengan saudara-saudaranya, anak Halimah dan Harits.

Salah satu saudara itu berteriak: “Saudara Quraisy-ku (Muhammad)! Dua laki-laki bergamis putih mengambilnya, membaringkannya, dan membelah dadanya. Lalu tangan mereka mengeluarkan isi dadanya.”

Mendengar teriakan ini, Halimah dan Harits berlari menghampiri Muhammad yang saat itu sedang berdiri dan wajahnya pucat pasi.

Lalu, Halimah bertanya kepada Muhammad: “Apa yang telah terjadi padamu, anakku?”

Muhammad menjawabnya: “Dua orang berbaju putih mendatangiku, membaringkan aku dan membelah dadaku untuk mencari sesuatu yang aku sendiri tidak tahu.”

Mendengar jawaban Muhammad, Halimah dan Harits lalu memeriksa tubuh Muhammad.

Mereka tak melihat darah atau luka pada tubuh Muhammad, juga tak ada goresan pada dada Muhammad. Tubuh Muhammad terlihat sehat.

Yang mereka temukan di tubuh Muhammad, tepatnya di bagian punggung, hanya gambaran tak biasa di antara kedua punggungnya; satu tanda berbentuk oval, kecil tapi jelas, namun tanda itu telah ada sejak lahir.

Selanjutnya, bertahun-tahun kemudian, Muhammad mampu menceritakan kejadian itu dengan lebih jelas dan lengkap:

“Ada dua laki-laki datang kepadaku, berbaju putih, dengan sebuah baskom emas yang penuh dengan salju. Setelah itu, mereka membaringkan tubuhku dan membelah dadaku, kemudian mengambil jantungku.”

“Tampaknya, mereka membuka dan mengambil segumpal darah hitamdari jantungku serta membuangnya. Lantas, mereka mencuci jantungku dan isi dadaku dengan salju itu.” Tulis Martin Lings mengutip Ibn Sa’d, rujukannya adalah edisi Leyden dari Kitab at-Thabaqat al-Khabir oleh Muhammad Ibn Sa’d.

Buku biografi Nabi Muhammad SAW karya Muhammad Husain Haekal (kiri) dan Martin Lings (kanan).
Buku biografi Nabi Muhammad SAW karya Muhammad Husain Haekal (kiri) dan Martin Lings (kanan). (SURYAMALANG.COM/Eko Darmoko)

Pernikahan Abdullah dan Aminah Hingga Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW, nabi terakhir yang diutus Allah SWT ke dunia untuk menyempurnakan ajaran agama Islam.

Muhammad diutus untuk menyampaikan risalah sekaligus kabar baik kepada seluruh manusia.

Nabi Muhammad SAW merupakan putra dari pasangan Abdullah bin Abdul Muttalib dan Aminah bin Wahab bin Abd Manaf bin Zuhra.

Muhammad lahir pada Tahun Gajah atau tahun 570 Masehi, dikutip SURYAMALANG.COM dari ‘Sejarah Hidup Muhammad’ karya Muhammad Husain Haikal terbitan Pustaka Jaya cetakan kelima 1980.

Dalam buku ini dikisahkan, Abdullah saat berusia 24 tahun menikahi Aminah, wanita dari suku Zuhra yang memiliki kedudukan terhormat.

Aminah adalah wanita pilihan Abdul Muttalib, ayah Abdullah sekaligus kakek Nabi Muhammad SAW kelak.

Tak lama setelah pernikahan ini, Abdullah pergi untuk berdagang ke Suria, dan otomatis harus meninggalkan istrinya yang sedang mengandung.

Dalam berbagai riwayat, Abdullah dikisahkan sebagai lelaki yang tegap dan tampan.

Tak heran jika banyak perempuan yang jatuh hati kepadanya, dan akhirnya patah hati setelah Abdullah menikahi Aminah.

Masih dari buku ‘Sejarah Hidup Muhammad’, dalam urusan perdagangan ini, Abdullah sempat singgah di Gaza.

Kemudian sowan ke tempat saudara-saudara ibunya di Madinah.

Kemudian, di Madinah, Abdullah sakit dan tidak bisa melanjutkan perjalanan pulang ke Mekkah.

Sementara, kawan-kawannya pulang ke Mekkah untuk mengabarkan keadaan sakit yang diderita Abdullah kepada keluarga di Mekkah.

Mendengar kabar ini, Abdul Muttalib mengutus anak sulungnya, Harith, untuk menjemput Abdullah di Madinah dan membawa pulang ke Mekkah bila kondisinya sudah sembuh.

Namun apa daya, sesampainya di Madinah, Harith dikejutkan dengan kabar kematian Abdullah dan sudah dimakamkan di sana.

Kabar kematian Abdullah tentu saja membuat sedih ayahnya, Abdul Muttalib, dan juga istri Abdullah, Aminah yang sedang mengandung.

Kesedihan ini perlahan memudar seiring lahirnya bayi laki-laki yang dikandung Aminah.

Bayi ini adalah Muhammad, yang kelak akan menjadi nabi penutup zaman pilihan Allah SWT.

Abdul Muttalib sangat senang mendengar kabar kelahiran cucu tersayangnya.

Saking senangnya, Abdul Muttalib langsung mengangkat bayi itu dan membawanya ke Kakbah.

Bayi itu diberi nama Muhammad, sebuah nama yang tidak umum di kalangan orang Arab, tapi cukup dikenal.

Kehadiran Muhammad, bagi Abdul Muttalib, adalah sebuah oase kebahagiaan di tengah masa kesedihan karena kematian Abdullah.

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved