Virus Corona di Jatim
Ekspor Non Migas Jatim Drop Ditengah Pandemi Covid-19, Tiga Faktor Utama Jadi Penyebabnya
Mengutip laman BPS Jatim, ekspor Jatim bulan Mei 2020 mencapai 1,25 miliar dolar AS atau turun 8,25 persen dibandingkan April 2020.
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur mencatat tiga faktor utama yang menjadi pendorong penurunan ekspor non migas di tengah pandemi covid 19.
Yaitu kurangnya bahan baku, tertutupnya negara tujuan ekspor dan turunnya produktivitas industri akibat pembatasan sosial berskala besar yang diterapkan pemerintah.
"Meskipun ini adalah hal yang tidak kita inginkan, tetapi kondisi ini sangat wajar karena perlambatan ekonomi akibat pandemi Covid-29 tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi di seluruh dunia," kata Tommy Kaihatu, Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Internasional dan Promosi Luar Negeri Kadin Jatim, Senin (15/6/2020).
Mengutip laman BPS Jatim, ekspor Jatim bulan Mei 2020 mencapai 1,25 miliar dolar AS atau turun 8,25 persen dibandingkan April 2020.
Dari jumlah itu, ekspor nonmigas Mei 2020 mencapai 1,24 miliar dolar AS atau turun 9,53 persen dibandingkan April 2020.
Nilai itu dibandingkan Mei 2019 turun sebesar 28,24 persen.
Lebih lanjut, Tommy mengatakan bahwa pandemi telah mengakibatkan arus impor Jatim menjadi terkendala. Padahal komoditas impor Jatim terbesar adalah bahan baku industri.
"Sekitar 70 persen lebih bahan baku industri itu berasal dari impor. Jika impor Jatim terkendala, maka produksi industri Jatim juga akan terkendala," ungkap Tommy.
Di sisi lain, kebijakan sejumlah negara untuk melakukan penutupan sementara terhadap arus manusia dan barang dari luar negeri yang bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 juga telah berdampak negatif terhadap penurunan ekspor Jatim.
Hal ini terlihat dari penurunan permintaan dari sejumlah negara tujuan seperti ekspor ke Belanda mengalami penurunan sebesar 31 persen, ekspor ke Jerman turun 37 persen, ekspor ke Jepang turun 33,8 persen dan ekspor ke Korea Selatan turun sebesar 43,3 persen.
"Faktor adanya kebijakan PSBB di sejumlah daerah di Jatim, membuat hanya beberapa industri vital saja yang boleh beroperasi," ungkap Tommy.
Dan yang boleh beroperasi pun harus mengikuti protokol Covid-19 dengan menerapkan physical distancing, sehingga produksi pun akhirnya turun sekitar 50 persen.
Kendati mengalami penurunan, Tommy masih melihat optimisme pasar dalam negeri.
Bahkan jika dibandingkan dengan negara lain, kondisi ekonomi Indonesia, termasuk Jatim masih jauh lebih baik.
Di saat negara lain mengalami kontraksi pertumbuhan di kuartal pertama 2020, ekonomi Indonesia ternyata masih mampu tumbuh walaupun hanya sekitar 2,97 persen dan Jatim tumbuh sebesar 3 persen.