Breaking News:

Virus Corona di Surabaya

IDI Jatim: Walau Ada PSBB Tapi Masyarakat Tidak Disiplin Protokol Kesehatan ya Sama Saja

Ketua IDI Jatim, Sutrisno menilai, yang lebih penting daripada PSBB adalah kepatuhan masyarakat untuk menggalakkan protokol kesehatan.

Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/Sugiharto
ILUSTRASI - Seorang pengendara tidak menggunakan masker di jalan Gemblongan Surabyaa saat hari kedua pelaksanaan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) di Kota Surabaya, Rabu (29/4/2020). Masih banyak warga yang tak mematuhi aturan PSBB, termasukmasih banyak warkop yang dipenuhi pelanggan 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur menilai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya Raya tidak perlu diterapkan kembali walaupun angka kasus Covid-19 terus naik terutama di Kota Surabaya.

Ketua IDI Jatim, Sutrisno menilai, yang lebih penting daripada PSBB adalah kepatuhan masyarakat untuk menggalakkan protokol kesehatan.

Mulai dari menggunakan masker, cuci tangan, menjaga jarak, dan tidak berkerumun.

"Jadi menurut saya yang paling penting adalah kedisiplinan masyarakat. Walaupun ada PSBB tapi masyarakat tidak disiplin protokol kesehatan ya sama saja," kata Sutrisno, Sabtu (20/6/2020).

Dari evaluasi yang dilakukan epidemiolog, kepolisian dan kalangan independen menunjukkan kedisiplinan masyarakat masih sangat rendah.

"Hal itu lah yang bikin kasus ini terus naik mendekati Jakarta. Bahkan kematian lebih tinggi daripada Jakarta," lanjutnya.

Selain pendisiplinan protokol kesehatan, Sutrisno juga meminta pemerintah daerah untuk lebih masif melakukan test baik rapid test maupun tes PCR (Polymerase Chain Reaction).

"Kuratif dan perawatannya juga harus bagus, serta tracing (penelusuran) yang efisien dan tepat. Dengan itu nanti baru bisa mengatasi angka kasus yang terus naik. Jadi bukan PSBB nya," lanjutnya.

Pemerintah daerah, lanjut Sutrisno juga harus memaksimalkan peran kampung tangguh yang menurutnya akan sangat efektif untuk mengedukasi masyarakat jika digerakkan secara optimal.

"Gerakan dari unit terkecil, mulai RT RW dan kampung, kalau bisa diefektifkan saya yakin berhasil. Para tokoh lokal mau berani fokus kepada warganya, mendisiplinkan warga dan melarang orang luar keluar masuk dengan bebas terutama pada jam malam dan melarang kumpul-kumpul," ucapnya.

Yang tak kalah penting, menurut Sutrisno adalah pengawasan pada masyarakat yang sedang melakukan isolasi mandiri.

"Isolasi mandiri harus betul-betul diawasi dan kalau perlu juga dibantu kebutuhan hidupnya. Jadi Kampung tangguh ini menurut saya harus diutamakan untuk penerapan disiplin protokol Kesehatan," pungkasnya.

(Sofyan Arif Candra)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved