Breaking News:

Berita Surabaya Hari Ini

FPH Dendam ke Denny Siregar Pernah Diperlakukan Seperti Ini

Peretas data pribadi pegiat media sosial Denny Siregar ternyata didasari motif sentimen pribadi

Polda Jatim
Kasubdit I Dittipitsiber Bareskrim Polri Kombes Pol Reinhard Hutagaol dan Karo Penmas Div Humas Mabes Polri Brigjen Pol Awi Setiyono di Mabes Polri saat merilis seorang karyawan gerai Grapari Telkomsel di Surabaya ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan meretas data pribadi pegiat media sosial, Denny Siregar. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Peretas data pribadi pegiat media sosial Denny Siregar ternyata didasari motif sentimen pribadi. Pelaku, FPH (22), yang pekerja outsouching sebagai customer service Grapari Telkomsel Rungkut Surabaya itu ternyata merasa sakit hati oleh sosok Denny Siregar.

Pasalnya, beberapa waktu lalu, FPH pernah dibully dan diserbu oleh para pendukung Denny Siregar melalui akun media sosial.

"Yang bersangkutan tidak menyukai DS karena telah dibully akun medsos dari pendukung DS," ujar Kasubdit I Dittipitsiber Bareskrim Polri Kombes Pol Reinhard Hutagaol, saat konferensi pers, di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (10/7/2020).

Peretas Data Pribadi Denny Siregar Ditangkap di Surabaya, Ancaman 10 Tahun Penjara dan Denda Rp 10 M

Tak cuma itu, ungkap Reinhard, ternyata akibat dari rasa sakit hatinya itu, FPH bersimpati terhadap akun-akun oposan yang cenderung memiliki keberanian melawan (counter) konten-konten Denny Siregar, atau kubu yang didukung pegiat medsos itu.

Satu diantaranya yakni akun Twitter @Opposite6890, yang belakangan trending di Twitter.

"Motif dari tersangka FPH jadi secara pribadi simpati dengan akun opposite tersebut," tuturnya.

Tak pelak, lanjut Reinhard, itulah yang membuat FPH akhirnya nekat untuk memberanikan diri mencuri data pribadi Denny Siregar; salah satu customer Telkomsel, dengan mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai karyawan Customer Service di perusahaan tersebut.

Caranya mengakses database pelanggan yang terkoneksi dengan perangkat di gerai tempatnya bekerja.

FPH mengakses secara ilegal tanpa mekanisme perizinan; sebagai protokol standar keamanan data, dari pelanggan yang bersangkutan ataupun pihak atasan.

"Dia punya akses data terbatas dari data yang diperoleh pelanggan, jadi ada 2 hal yang bisa diakses; akses data tentang pelanggan, dan akses tentang device, atau alat ponsel pelanggan," ujarnya.

Halaman
123
Editor: isy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved